Tips & Trick
light_mode
Trending Tags
Maaf, tidak ditemukan tags pada periode waktu yang ditentukan.
Beranda » Headline » Meta Resmi Gunakan Foto Pengguna Facebook dan Instagram untuk Latih Model AI Terbaru

Meta Resmi Gunakan Foto Pengguna Facebook dan Instagram untuk Latih Model AI Terbaru

  • account_circle Dara Harun Assegaf
  • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
  • visibility 14
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Teknoloji, California – Bagi para pengguna Instagram dan Facebook, setiap foto liburan, potret estetik, hingga unggahan keseharian yang dibagikan ke media sosial ternyata punya fungsi baru. Bukan lagi sekadar untuk mendulang likes, konten-konten tersebut kini resmi menjadi “bahan bakar” mentah untuk melatih kecerdasan buatan (AI) milik Meta.

Meta mengumumkan pembaruan kebijakan privasi yang menyatakan bahwa perusahaan akan mulai menggunakan unggahan publik berupa foto, teks, dan video dari miliaran penggunanya untuk melatih model AI generatif mereka. Kebijakan ini memicu gelombang protes dari para aktivis privasi digital global yang menilai langkah tersebut sebagai bentuk pelanggaran hak privasi skala massal.

Hanya Konten Publik, Tapi Cara ‘Opt-Out’ Sengaja Dibuat Rumit

Meta menegaskan bahwa kebijakan ini hanya berlaku untuk unggahan yang disetel secara publik (public posts). Pesan pribadi (private messages/DMs) serta foto yang dibagikan dalam akun yang dikunci (private account) diklaim tetap aman dan tidak akan disentuh oleh radar AI mereka.

Namun, yang menuai kritik tajam adalah pendekatan Meta yang menggunakan sistem opt-out bukan opt-in. Artinya, secara otomatis semua akun publik dianggap “setuju” untuk menyumbangkan data mereka ke dalam pusat pelatihan AI Meta, kecuali si pengguna mengajukan keberatan secara manual.

Parahnya lagi, proses untuk menolak (opt-out) atau mengajukan keberatan sengaja disembunyikan di balik menu pengaturan yang berlapis-lapis di dalam aplikasi. Pengguna harus mengisi formulir khusus, memberikan alasan mengapa mereka keberatan datanya dipakai, dan memasukkan kode verifikasi yang dikirim ke email—sebuah taktik desain antarmuka (dark patterns) yang dinilai sengaja dibuat rumit agar pengguna menyerah di tengah jalan.

Netizen Indonesia dan Ketimpangan Regulasi Privasi Data

Langkah agresif Meta ini menjadi topik hangat yang sangat krusial bagi netizen di Indonesia. Indonesia merupakan salah satu pasar terbesar Instagram dan Facebook di dunia, dengan ratusan juta pengguna aktif yang sangat gemar membagikan konten visual setiap harinya. Celakanya, mayoritas pengguna di tanah air tidak menyadari perubahan kebijakan privasi ini karena jarang membaca lembar syarat dan ketentuan (terms and services) yang panjang.

Menariknya, di wilayah Uni Eropa (EU) yang dilindungi oleh regulasi ketat GDPR, Meta terpaksa menunda kebijakan ini karena mendapat penolakan keras dari otoritas perlindungan data setempat. Sementara di Indonesia, meskipun sudah memiliki Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP), implementasi dan pengawasan terhadap raksasa teknologi asing yang memanfaatkan data publik untuk pelatihan mesin (machine learning) masih menghadapi tantangan besar di lapangan. Hal ini memicu ketimpangan, di mana data pengguna di negara berkembang menjadi komoditas gratis untuk melatih AI, sementara pengguna di negara maju mendapatkan proteksi hukum yang lebih kuat.

Apa Kata Pihak Meta?

Menanggapi kekhawatiran global ini, Chief Product Officer Meta, Chris Cox, memberikan pembelaan bahwa kualitas AI yang baik tidak bisa lahir tanpa adanya data yang relevan secara kultural dan sosial dari dunia nyata.

“Untuk membangun model AI yang benar-benar memahami nuansa budaya, bahasa, dan konteks sosial di seluruh dunia, kami perlu melatihnya menggunakan konten yang mencerminkan komunitas tersebut. Kami berkomitmen untuk melakukan ini dengan cara yang menghormati privasi dan transparansi,” jelas Cox dalam sebuah pemaparan mengenai strategi kecerdasan buatan perusahaan yang dilansir APNews, Sabtu (11/7/2026).

Meskipun Meta berdalih demi inovasi teknologi, kenyataan bahwa foto-foto pribadi publik kini menjadi aset komersial korporasi multinasional menjadi pengingat penting bagi kita semua: di era digital, saat sebuah platform bisa diakses secara gratis, maka data dan konten kitalah yang menjadi produk sebenarnya.

 

  • Penulis: Dara Harun Assegaf

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Indosat Scam Spam

    Indosat Klaim Blokir 2 Miliar Ancaman Spam dan Scam dalam 6 Bulan

    • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 47
    • 0Komentar

    Teknoloji, Jakarta – Enam bulan sejak diluncurkan, fitur Anti-Spam dan Anti-Scam milik Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) diklaim telah mendeteksi lebih dari 2 miliar panggilan, SMS, dan tautan berisiko yang terindikasi spam maupun penipuan. Teknologi ini berbasis kecerdasan buatan (AI) dan dikembangkan bersama mitra teknologi Tanla melalui platform Wisely AI, dengan tujuan melindungi seluruh pelanggan dari […]

  • Indosat Network

    Indosat Gandeng Qualcomm Bikin Sinyal Makin Kencang Berkat Teknologi Naga

    • calendar_month Sabtu, 6 Des 2025
    • account_circle Fajar Surya
    • visibility 35
    • 0Komentar

    Teknoloji, Jakarta – Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) kembali membuat gebrakan teknologi. Demi memanjakan pelanggan dengan kualitas sinyal yang lebih prima, operator seluler ini resmi menggandeng raksasa teknologi global, Qualcomm. Kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama biasa, tapi sebuah langkah strategis untuk menyuntikkan kecerdasan buatan (AI) langsung ke jantung jaringan Indosat. Fokus utama dari kemitraan ini […]

  • Oppo Reno 16 Pro

    OPPO Reno16 Pro dan Reno16 Go Resmi Meluncur dengan Kamera Utama 200 MP

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 76
    • 0Komentar

    Teknoloji, Shenzhen – Seolah tidak ingin kehilangan momentum di pasar kelas menengah atas (mid-range premium), OPPO secara resmi mengumumkan kehadiran duo jagoan terbarunya: OPPO Reno16 Pro dan Reno16 Go. Langkah ini menjadi lompatan yang sangat agresif bagi OPPO. Bukan sekadar penyegaran eksterior biasa, daya tarik utama yang dibawa oleh kedua perangkat ini terletak pada konfigurasi kamera […]

  • Kenaikan tarif e-commerce

    Kenaikan Tarif E-Commerce, Pemerintah Minta UMKM Fokus pada Masa Transisi

    • calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 28
    • 0Komentar

    Teknoloji, Jakarta – Pemerintah belum membahas rencana kenaikan tarif layanan atau biaya admin di platform e-commerce. Isu ini mencuat bersamaan dengan penerapan mekanisme baru pemungutan Pajak Penghasilan atau PPh Pasal 22 oleh marketplace, yang mulai efektif pada 1 Agustus 2026. Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menegaskan bahwa pemerintah saat ini masih […]

  • Discord aplikasi

    Discord Tunda Peluncuran Verifikasi Usia Global Usia Dikritik Pengguna

    • calendar_month Jumat, 27 Feb 2026
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 42
    • 0Komentar

    Teknoloji, California – Platform komunitas digital Discord resmi menunda peluncuran sistem verifikasi usia secara global setelah menuai kebingungan dan kritik dari pengguna. Dalam pernyataan terbarunya melalui blog resmi, Discord mengakui bahwa mereka “kurang tepat” dalam menjelaskan rencana awal tersebut. Peluncuran global yang semula direncanakan dalam waktu dekat kini diundur hingga paruh kedua 2026. Keputusan ini […]

  • Ilustrasi kantor Tiktok yang melakukan PHK massal

    Efisiensi Pasca-Merger, TikTok Resmi Konfirmasi PHK Karyawan di Indonesia

    • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 33
    • 0Komentar

    Teknoloji, Jakarta – Dunia startup dan e-commerce Tanah Air kembali dikejutkan oleh langkah restrukturisasi besar-besaran. TikTok, raksasa media sosial di bawah naungan ByteDance, secara resmi mengonfirmasi adanya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sejumlah karyawannya di Indonesia. Langkah perampingan ini diambil sebagai dampak langsung dari proses integrasi operasional pasca-merger antara TikTok Shop dan Tokopedia. Kombinasi strategis […]

expand_less