Bikin Alibaba Was-was, Claude Code Besutan Anthropic Diduga Punya Fitur Deteksi Pengguna di China
- account_circle Dara Harun Assegaf
- calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
- visibility 29
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pengguna Claude Code (Ilustrasi: WenHao Yu).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Teknoloji, China – Peta persaingan alat bantu pemrograman berbasis kecerdasan buatan (AI coding tool) kembali memanas. Namun, kali ini sorotan utamanya bukan soal adu kecanggihan fitur, melainkan isu sensitif seputar kedaulatan data dan privasi digital. Alat coding berbasis AI milik Anthropic, Claude Code, mendadak menjadi perbincangan hangat global setelah ditemukannya mekanisme tersembunyi yang dapat menandai pengguna dengan keterkaitan wilayah China.
Menurut laporan dari Reuters, Selasa (7/7/2026), mekanisme deteksi ini bekerja secara senyap dengan memeriksa lingkungan digital pengguna, mulai dari pengaturan zona waktu hingga penggunaan proxy. Setelah data tersebut teridentifikasi, sistem akan menyisipkan penanda halus (subtle marker) ke dalam prompt yang dikirimkan langsung ke server Anthropic.
Alibaba Langsung Larang Penggunaan Claude Code
Kekhawatiran terhadap fitur pelacakan tersembunyi ini langsung direspons keras oleh raksasa teknologi asal China, Alibaba. Reuters menyebutkan bahwa Alibaba kini resmi melarang seluruh karyawannya untuk menggunakan Claude Code di lingkungan kerja.
Langkah protektif ini diambil karena alat tersebut dinilai memiliki fitur khusus yang bisa membantu mengidentifikasi apakah seorang pengguna terafiliasi dengan regional China. Sebagai gantinya, para karyawan Alibaba langsung diarahkan untuk beralih menggunakan Qoder, platform coding internal milik perusahaan mereka sendiri.
Sementara itu, laporan dari The Next Web membeberkan detail teknis yang semakin memperkuat kecurigaan para peneliti keamanan. Dalam kode yang ditemukan, terungkap bahwa Claude Code secara spesifik memeriksa apakah lokasi zona waktu pengguna berada di opsi Asia/Shanghai atau Asia/Urumqi.
Tidak berhenti di situ, mekanisme ini juga memindai alamat URL proxy yang digunakan pengguna untuk melihat kemungkinan adanya keterkaitan dengan domain asal China atau laboratorium AI tertentu.
Tanggapan Resmi dari Anthropic
Menariknya, penanda (marker) rahasia ini sengaja dirancang agar tidak muncul dalam catatan log biasa. The Next Web menjelaskan bahwa sinyal tersebut disembunyikan dengan sangat rapi lewat modifikasi minor pada sistem prompt. Perubahan ini bisa berupa variasi format tanggal atau penggunaan karakter apostrof (tanda petik satu) tertentu. Modifikasi visual ini sekilas tampak serupa dan identik di mata manusia biasa, namun memiliki kode unik yang tetap dapat dibaca dengan mudah oleh mesin pemroses di server Anthropic.
Menanggapi temuan yang menghebohkan ini, Anthropic tidak membantah keberadaan mekanisme pelacakan tersebut dalam laporan Reuters. Seorang engineer dari tim pengembang Claude Code memberikan klarifikasi dan menyebut fitur tersebut sebagai bagian dari eksperimen yang telah diluncurkan sejak Maret lalu.
Tujuan utamanya diklaim murni untuk aspek keamanan bisnis, yakni mencegah penyalahgunaan akun oleh pihak reseller tidak resmi serta melindungi model AI mereka dari praktik distilasi kode oleh kompetitor.
- Penulis: Dara Harun Assegaf

Saat ini belum ada komentar