Tips & Trick
light_mode
Trending Tags
Maaf, tidak ditemukan tags pada periode waktu yang ditentukan.
Beranda » Headline » Meta Resmi Gunakan Foto Pengguna Facebook dan Instagram untuk Latih Model AI Terbaru

Meta Resmi Gunakan Foto Pengguna Facebook dan Instagram untuk Latih Model AI Terbaru

  • account_circle Dara Harun Assegaf
  • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
  • visibility 13
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Teknoloji, California – Bagi para pengguna Instagram dan Facebook, setiap foto liburan, potret estetik, hingga unggahan keseharian yang dibagikan ke media sosial ternyata punya fungsi baru. Bukan lagi sekadar untuk mendulang likes, konten-konten tersebut kini resmi menjadi “bahan bakar” mentah untuk melatih kecerdasan buatan (AI) milik Meta.

Meta mengumumkan pembaruan kebijakan privasi yang menyatakan bahwa perusahaan akan mulai menggunakan unggahan publik berupa foto, teks, dan video dari miliaran penggunanya untuk melatih model AI generatif mereka. Kebijakan ini memicu gelombang protes dari para aktivis privasi digital global yang menilai langkah tersebut sebagai bentuk pelanggaran hak privasi skala massal.

Hanya Konten Publik, Tapi Cara ‘Opt-Out’ Sengaja Dibuat Rumit

Meta menegaskan bahwa kebijakan ini hanya berlaku untuk unggahan yang disetel secara publik (public posts). Pesan pribadi (private messages/DMs) serta foto yang dibagikan dalam akun yang dikunci (private account) diklaim tetap aman dan tidak akan disentuh oleh radar AI mereka.

Namun, yang menuai kritik tajam adalah pendekatan Meta yang menggunakan sistem opt-out bukan opt-in. Artinya, secara otomatis semua akun publik dianggap “setuju” untuk menyumbangkan data mereka ke dalam pusat pelatihan AI Meta, kecuali si pengguna mengajukan keberatan secara manual.

Parahnya lagi, proses untuk menolak (opt-out) atau mengajukan keberatan sengaja disembunyikan di balik menu pengaturan yang berlapis-lapis di dalam aplikasi. Pengguna harus mengisi formulir khusus, memberikan alasan mengapa mereka keberatan datanya dipakai, dan memasukkan kode verifikasi yang dikirim ke email—sebuah taktik desain antarmuka (dark patterns) yang dinilai sengaja dibuat rumit agar pengguna menyerah di tengah jalan.

Netizen Indonesia dan Ketimpangan Regulasi Privasi Data

Langkah agresif Meta ini menjadi topik hangat yang sangat krusial bagi netizen di Indonesia. Indonesia merupakan salah satu pasar terbesar Instagram dan Facebook di dunia, dengan ratusan juta pengguna aktif yang sangat gemar membagikan konten visual setiap harinya. Celakanya, mayoritas pengguna di tanah air tidak menyadari perubahan kebijakan privasi ini karena jarang membaca lembar syarat dan ketentuan (terms and services) yang panjang.

Menariknya, di wilayah Uni Eropa (EU) yang dilindungi oleh regulasi ketat GDPR, Meta terpaksa menunda kebijakan ini karena mendapat penolakan keras dari otoritas perlindungan data setempat. Sementara di Indonesia, meskipun sudah memiliki Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP), implementasi dan pengawasan terhadap raksasa teknologi asing yang memanfaatkan data publik untuk pelatihan mesin (machine learning) masih menghadapi tantangan besar di lapangan. Hal ini memicu ketimpangan, di mana data pengguna di negara berkembang menjadi komoditas gratis untuk melatih AI, sementara pengguna di negara maju mendapatkan proteksi hukum yang lebih kuat.

Apa Kata Pihak Meta?

Menanggapi kekhawatiran global ini, Chief Product Officer Meta, Chris Cox, memberikan pembelaan bahwa kualitas AI yang baik tidak bisa lahir tanpa adanya data yang relevan secara kultural dan sosial dari dunia nyata.

“Untuk membangun model AI yang benar-benar memahami nuansa budaya, bahasa, dan konteks sosial di seluruh dunia, kami perlu melatihnya menggunakan konten yang mencerminkan komunitas tersebut. Kami berkomitmen untuk melakukan ini dengan cara yang menghormati privasi dan transparansi,” jelas Cox dalam sebuah pemaparan mengenai strategi kecerdasan buatan perusahaan yang dilansir APNews, Sabtu (11/7/2026).

Meskipun Meta berdalih demi inovasi teknologi, kenyataan bahwa foto-foto pribadi publik kini menjadi aset komersial korporasi multinasional menjadi pengingat penting bagi kita semua: di era digital, saat sebuah platform bisa diakses secara gratis, maka data dan konten kitalah yang menjadi produk sebenarnya.

 

  • Penulis: Dara Harun Assegaf

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Axios hacker korea utara

    Geger Axios Kena Bajak: Hacker Korea Utara Incar Developer, Apa Dampaknya di Indonesia?

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 96
    • 0Komentar

    Teknoloji, California – Ekosistem open source baru saja menerima “alarm” keras. Salah satu library JavaScript paling populer di dunia, Axios, dilaporkan sempat disusupi kode berbahaya oleh peretas yang diduga berafiliasi dengan Korea Utara. Insiden ini bukan masalah sepele, karena Axios adalah “tulang punggung” bagi jutaan aplikasi untuk terhubung ke internet. Kenapa Ini Menakutkan? Bagi kamu […]

  • Mercedes-Benz CLA 2026

    Mercedes-Benz CLA 2026: Entry-Level yang Justru Paling Canggih

    • calendar_month Selasa, 23 Des 2025
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 45
    • 0Komentar

    Teknoloji, Stuttgard – Biasanya, Mercedes-Benz punya aturan main yang saklek: teknologi paling mutakhir itu jatahnya S-Class atau mobil-mobil flagship mereka yang harganya selangit. Nanti, baru sisa-sisa teknologinya “diturunkan” ke model yang lebih murah setelah balik modal. Tapi, aturan itu resmi dibuang ke tong sampah. Mercedes kini memasuki era baru yang lebih egaliter lewat Mercedes-Benz CLA […]

  • Solusi Keselamatan Berkendara

    Peneliti Ini Ciptakan Solusi Keselamatan Berkendara dan Penerbangan di Masa Depan

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Fajar Surya
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Teknoloji, Michigan – Berkendara dalam kondisi cuaca ekstrem kerap menjadi pengalaman menegangkan, terutama karena ancaman yang tidak selalu terlihat oleh mata. Di negara beriklim empat musim, salah satu yang paling berbahaya adalah black ice, lapisan es tipis yang tampak seperti permukaan jalan basah, namun dapat membuat ban kendaraan kehilangan traksi dalam sekejap. Risiko serupa juga […]

  • Digitalisasi bansos ilustrasi ok

    Digitalisasi Bansos Meluas, Apakah Keamanan Data Masyarakat Sudah Siap?

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 56
    • 0Komentar

    Jakarta, Teknoloji – Pemerintah memperluas proyek percontohan digitalisasi bantuan sosial (bansos) pada 2026 ke 41 kabupaten/kota di 25 provinsi. Menariknya, sekitar 78% lokasi piloting berada di luar Pulau Jawa yang diyakini menjadi sebuah langkah strategis untuk memastikan transformasi layanan publik menjangkau wilayah yang selama ini menghadapi tantangan akses dan infrastruktur digital. Perluasan ini menegaskan peran […]

  • YouTube Watch Later

    Cara Menghapus Daftar “Watch Later” YouTube Secara Total dengan Aman

    • calendar_month Selasa, 9 Des 2025
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 1.753
    • 0Komentar

    Sama halnya dengan fitur Bookmark di X (Twitter), tombol “Watch Later” YouTube sering kali jadi tempat penampungan digital favorit kita. Niat hati ingin menonton videonya nanti saat senggang, tapi realitanya? Video menumpuk sampai ratusan, bahkan ribuan, dan tidak pernah disentuh sama sekali. Jujur saja, saat daftar itu sudah mencapai angka ribuan, kita pasti sadar bahwa […]

  • Baterai Tanpa Anoda Ini Bikin Jarak Tempuh Mobil Listrik Makin Jauh

    Baterai Tanpa Anoda Ini Bikin Jarak Tempuh Mobil Listrik Makin Jauh

    • calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 62
    • 0Komentar

    Teknoloji, Seoul – Kabar gembira buat kamu yang masih ragu beralih ke mobil listrik (EV) karena takut baterai cepat habis atau drop saat cuaca dingin. Sekelompok ilmuwan jenius dari Korea Selatan baru saja mengumumkan terobosan besar. Tim gabungan dari POSTECH, KAIST, dan Gyeongsang National University berhasil mengembangkan teknologi baterai logam lithium “tanpa anoda” (anode-free). Klaimnya […]

expand_less