Kemenekraf, Indosat, dan Adobe Buka Jalan Baru bagi Kreator Indonesia Lewat AI
- account_circle Dara Harun Assegaf
- calendar_month Rabu, 17 Jun 2026
- visibility 31
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kemenekraf, Indosat, dan Adobe (Foto: IOH)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Teknoloji, Jakarta – Ekosistem kreator digital di Indonesia mendapat dorongan baru. Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Indosat Ooredoo Hutchison, dan Adobe resmi berkolaborasi untuk membantu kreator muda mengubah ide kreatif menjadi peluang ekonomi yang lebih nyata melalui teknologi, kecerdasan buatan atau AI, serta akses pembelajaran digital.
Kolaborasi ini diumumkan di Jakarta pada Senin (15/6/2026) kemarin. Fokusnya bukan hanya memperkenalkan tools kreatif, tetapi juga membangun jalur yang lebih lengkap: mulai dari belajar, membuat karya, meningkatkan kemampuan digital, sampai membuka peluang monetisasi bagi kreator lokal.
Langkah ini cukup relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Indeks Masyarakat Digital Indonesia atau IMDI 2025 tercatat naik menjadi 44,53, meningkat 1,19 poin dibanding tahun sebelumnya. Artinya, akses dan kemampuan digital masyarakat terus membaik, tetapi tantangan berikutnya adalah bagaimana keterampilan tersebut bisa menghasilkan nilai tambah, baik dalam bentuk karya, bisnis, karier, maupun kekayaan intelektual.
Melalui kerja sama ini, Indosat akan memberikan akses premium Adobe Express secara gratis selama enam bulan kepada seluruh pelanggan. Adobe Express sendiri merupakan platform desain dan konten berbasis AI yang dapat digunakan untuk membuat materi visual, konten media sosial, poster, video pendek, hingga kebutuhan komunikasi digital lainnya secara lebih cepat.
Materi Ramah untuk Semua
Tidak berhenti di akses aplikasi, Adobe dan Indosat juga menyiapkan materi pembelajaran dari Adobe Digital Academy yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Materi ini dirancang agar lebih mudah diikuti oleh pengguna lokal, termasuk pelajar, mahasiswa, kreator pemula, pelaku UMKM, hingga masyarakat umum yang ingin meningkatkan kemampuan storytelling digital, desain, komunikasi visual, dan pembuatan konten.
Yang menarik, Indonesia juga dipilih sebagai negara pertama untuk peluncuran program monetisasi kreator Adobe Express. Melalui program ini, kreator Indonesia dapat membuat template lokal di Adobe Express dan berpeluang memperoleh penghasilan langsung dari karya mereka. Peserta terpilih bahkan berkesempatan menampilkan karya di IDEAFEST, salah satu festival kreatif besar di Indonesia.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menekankan bahwa AI seharusnya dipakai untuk “memperkuat kreativitas manusia, bukan menggantikannya.” Menurutnya, ekonomi kreatif Indonesia bertumpu pada kekayaan intelektual yang lahir dari budaya dan kreativitas masyarakat.
Dari sisi Indosat, President Director and CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha menyebut Indonesia memiliki talenta kreatif yang besar. Menurutnya, banyak anak muda saat ini membutuhkan akses terhadap perangkat, keterampilan, dan peluang yang tepat agar ide mereka bisa berkembang menjadi karya yang berdampak.
Sementara itu, Adobe melihat Indonesia sebagai pasar kreator yang penting di kawasan Asia Pasifik. President Adobe untuk kawasan Jepang dan Asia Pasifik, Ben Goodman, mengatakan kemitraan ini bertujuan membantu kreator mengubah ide menjadi bisnis yang dapat dimonetisasi.
Mengusung Dua Program Utama
Kolaborasi ini juga terhubung dengan dua program utama, yakni ECHOES dan GENSi. ECHOES atau Ekraf Creates Harmony on Education Sector merupakan program Kemenekraf untuk memperkenalkan ekosistem ekonomi kreatif kepada pelajar dan mahasiswa. Sementara GENSi atau Generasi Terkoneksi adalah platform pemberdayaan generasi muda milik Indosat. Setelah menjangkau lebih dari 10.000 anak muda, GENSi menargetkan 15.000 peserta di seluruh Indonesia pada tahun ini.
Konteks ekonominya juga besar. Kemenekraf mencatat ekonomi kreatif menyumbang Rp1.611,15 triliun atau 7,28% terhadap PDB nasional pada 2024. Memasuki 2025, sektor ini mencatat nilai ekspor US$31,94 miliar, realisasi investasi Rp183,01 triliun, dan menyerap hingga 27,4 juta tenaga kerja. Data BPS juga menunjukkan tenaga kerja ekonomi kreatif pada 2025 setara 18,70% dari total tenaga kerja nasional.
Bagi Indonesia, inisiatif seperti ini penting karena ekonomi kreatif tidak lagi hanya bergantung pada bakat, tetapi juga pada kemampuan mengelola teknologi, memahami hak kekayaan intelektual, dan membangun model bisnis yang berkelanjutan. Di tengah maraknya penggunaan AI untuk desain, video, musik, hingga konten media sosial, kreator lokal perlu dibekali agar tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pencipta yang bisa mendapatkan manfaat ekonomi.
Dengan kombinasi akses tools, pelatihan, jaringan komunitas, dan peluang monetisasi, kerja sama Kemenekraf, Indosat, dan Adobe bisa menjadi pintu masuk baru bagi kreator Indonesia. Tantangannya kini adalah memastikan program ini benar-benar menjangkau kreator di berbagai daerah, bukan hanya mereka yang sudah berada di pusat ekosistem digital kota besar.
- Penulis: Dara Harun Assegaf

Saat ini belum ada komentar