Usain Bolt Tergeser, Robot Humanoid China Pecahkan Rekor Lari 100 Meter
- account_circle Dara Harun Assegaf
- calendar_month Senin, 24 Agt 2026
- visibility 58
- comment 0 komentar
- print Cetak

Robot humanoid yang memecahkan rekor Usain Bolt (Foto: Reuters).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Teknoloji – Dunia atletik dan teknologi baru saja menyaksikan peristiwa yang mencengangkan. Manusia tercepat di bumi, Usain Bolt, kini harus merelakan rekor lari 100 meternya dilewati, bukan oleh atlet pendatang baru, melainkan oleh sebuah mesin. Robot humanoid asal Tiongkok baru saja membuktikan bahwa batasan fisik manusia perlahan mulai dilampaui oleh inovasi teknologi kecerdasan buatan.
Melansir laporan dari kantor berita Reuters, Sabtu (22/8/2026), pencapaian luar biasa ini terjadi pada ajang kompetisi robotika World Humanoid Robot Games kedua di Beijing. Dalam ajang tersebut, dua robot humanoid sukses mencatatkan waktu di bawah rekor legendaris 9,58 detik milik Bolt yang dicetak pada 2009 silam.
Lompatan Besar di Lintasan Lari
Bintang utama dalam acara tersebut adalah robot bernama Tiangong Ultra, buatan pusat inovasi robot humanoid di Beijing. Robot ini berhasil menembus garis akhir dalam waktu 9,39 detik. Menyusul di belakangnya, robot bernama Lightning yang dikembangkan oleh produsen gawai Honor, mencatatkan waktu 9,47 detik.
Perkembangan teknologi ini terbilang sangat masif dan cepat. Sebagai perbandingan, pada kompetisi tahun pertama di ajang yang sama, pemenang kategori lari 100 meter robot masih membutuhkan waktu sekitar 21,50 detik. Fakta ini menunjukkan betapa pesatnya penyempurnaan teknologi aktuator dan pembelajaran mesin hanya dalam kurun waktu satu tahun.
Sebelum mencetak rekor lari jarak pendek, robot Lightning juga sudah menarik perhatian publik ketika berhasil menyelesaikan lari maraton separuh di Beijing pada bulan April lalu dengan waktu 50 menit 26 detik. Untuk mencapai kecepatan maksimal di lintasan 100 meter, tim pengembang memberikan penyesuaian khusus dengan menambah panjang kaki robot sekitar 10 sentimeter demi memperlebar jangkauan langkah di lintasan.
Insiden Tak Terduga di Garis Akhir
Walaupun memiliki kecepatan yang mengagumkan, robot-robot ini membuktikan bahwa mereka masih memiliki kelemahan mendasar. Berbeda dengan pelari manusia yang mampu mengerem dan memperlambat laju tubuhnya secara perlahan setelah melewati garis akhir, sistem deselerasi pada robot ini rupanya belum dirancang dengan sempurna.
Kedua robot tersebut dilaporkan melaju tidak terkendali dan menabrak matras pengaman tebal di ujung lintasan. Robot Lightning bahkan mengalami kerusakan hingga harus ditandu ke luar area kompetisi oleh tim teknisnya.
Pencapaian kecepatan di lintasan atletik ini bukan sekadar ajang pamer teknologi, melainkan sinyal nyata keseriusan Tiongkok dalam mendominasi industri tenaga kerja otomatis. Media penyiaran negara setempat dalam laporannya menyampaikan pandangan strategis terkait kompetisi ini.
“Performa ini menunjukkan betapa cepatnya industri robot humanoid melaju dari sekadar proyek eksperimental menuju penerapan industri yang nyata,” sebut laporan dari media pemerintah Tiongkok, sebagaimana dikutip dari laporan Reuters.
Meskipun para insinyur telah berhasil menciptakan mesin yang berlari secepat kilat, pekerjaan rumah berikutnya sudah menanti di depan mata. Mereka kini harus memutar otak untuk mengembangkan sistem keseimbangan dinamis agar robot bisa berhenti dengan mulus tanpa perlu merusak komponen di dalam tubuhnya.
- Penulis: Dara Harun Assegaf

Saat ini belum ada komentar