Tips & Trick
light_mode
Trending Tags
Beranda » Headline » Mengapa Data Pribadi Menjadi Aset Paling Mahal di Industri Fintech?

Mengapa Data Pribadi Menjadi Aset Paling Mahal di Industri Fintech?

  • account_circle Dara Harun Assegaf
  • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
  • visibility 40
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jakarta, Teknoloji – Di era layanan keuangan digital, data pribadi bukan lagi sekadar informasi pendukung, tapi telah menjelma menjadi aset strategis bernilai tinggi. Setiap nama, nomor identitas, riwayat transaksi, lokasi, hingga kebiasaan belanja membentuk profil perilaku dan risiko pengguna. Dari sudut pandang fintech, kumpulan data ini memungkinkan layanan keuangan berjalan lebih cepat, tepat sasaran, dan minim risiko.

Bagi perusahaan fintech, data pengguna menjadi fondasi utama dalam berbagai proses penting: mulai dari penilaian kelayakan kredit (credit scoring), pencegahan penipuan (fraud detection), personalisasi produk, hingga pengambilan keputusan bisnis secara real-time. Nilainya bahkan sering kali melampaui nilai transaksi itu sendiri, karena data memungkinkan perusahaan memprediksi perilaku pasar dan mengelola risiko secara lebih akurat.

Nilai ekonomi data terus meningkat seiring pesatnya adopsi layanan keuangan digital. Menurut laporan e-Conomy SEA Google, Temasek, dan Bain & Company, nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai lebih dari USD 130 miliar pada 2025, dengan sektor fintech sebagai salah satu kontributor utama. Pertumbuhan ini tidak lepas dari pemanfaatan data untuk memperluas akses keuangan, terutama bagi masyarakat yang sebelumnya tidak terjangkau layanan perbankan tradisional.

Fakta menariknya, Indonesia memiliki lebih dari 270 juta penduduk dengan tingkat inklusi keuangan yang terus meningkat, mencapai sekitar 85% pada 2023 menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Artinya, semakin banyak data finansial yang dihasilkan setiap hari, sekaligus memperbesar nilai dan sensitivitas data tersebut.

Target Utama Kejahatan Siber

Ketika masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesa, Jokowi  pernah mengungkapkan bahwa data adalah jenis kekayaan baru bangsa kita dan dianggap lebih berharga dari minyak.

“Saat ini data adalah new oil. Bahkan lebih, bahkan lebih berharga dari minyak,” ungkapnya dalam perencanaan pelaksanaan sensus penduduk di Istana Negara, Jakarta, Jumat (24/1/2020), seperti dilansir CNBC Indonesia.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan ironi yang sulit diabaikan. Jika data dianggap aset paling berharga, maka perlindungannya seharusnya menjadi prioritas utama negara.

Faktanya, Indonesia berulang kali menghadapi kebocoran data berskala besar yang melibatkan institusi publik maupun ekosistem digital yang berada dalam pengawasan regulator. Insiden-insiden ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah negara telah memperlakukan “new oil” tersebut dengan standar keamanan yang setara dengan nilainya?

Padahal tingginya nilai data pribadi menjadikannya target utama kejahatan siber. Laporan IBM Cost of a Data Breach 2023 mencatat rata-rata kerugian global akibat kebocoran data mencapai US$ 4,45 juta per insiden, dengan sektor keuangan termasuk yang paling terdampak. Kebocoran data tidak hanya menimbulkan kerugian finansial, tetapi juga merusak reputasi dan kepercayaan pengguna, aset yang sangat krusial bagi layanan berbasis teknologi.

Di Indonesia, ancaman ini bukan sekadar potensi. Pada 2023, publik dikejutkan oleh dugaan kebocoran lebih dari 1,3 miliar data pribadi warga yang beredar di forum peretas oleh pelaku yang mengaku bernama Bjorka, mencakup data KTP, nomor telepon, dan alamat. Kasus ini menjadi pengingat bahwa sistem perlindungan data masih memiliki celah yang dapat dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab.

Berbagai kasus kebocoran data dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan pola yang mengarah pada lemahnya tata kelola, minimnya transparansi, serta lambatnya respons mitigasi. Alih-alih menjadi alarm untuk reformasi sistemik, banyak insiden justru berakhir tanpa kejelasan akuntabilitas. Kondisi ini memperkuat persepsi publik bahwa perlindungan data belum menjadi prioritas kebijakan yang dijalankan secara konsisten.

Jika pemerintah serius memposisikan data sebagai kekayaan strategis nasional, maka pendekatan yang dibutuhkan tidak cukup berhenti pada retorika. Diperlukan standar keamanan siber yang ketat, audit independen berkala, mekanisme notifikasi kebocoran yang transparan, serta penegakan hukum yang tegas terhadap kelalaian pengelolaan data.

Kepercayaan: Mata Uang Utama Industri Fintech

Dalam industri fintech, kepercayaan adalah mata uang utama. Tanpa jaminan keamanan data, pengguna akan ragu memanfaatkan layanan digital, yang pada akhirnya menghambat pertumbuhan industri. Karena itu, pengelolaan data pribadi bukan hanya isu teknologi, tetapi juga menyangkut perlindungan konsumen dan keberlanjutan ekosistem keuangan digital.

Pemerintah Indonesia telah merespons melalui Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) serta regulasi OJK yang menegaskan kewajiban pengelolaan data secara aman, transparan, dan bertanggung jawab. Namun, regulasi saja tidak cukup. Implementasi yang konsisten, literasi digital masyarakat, serta komitmen pelaku industri menjadi faktor penentu.

Di tengah kemudahan layanan digital, kesadaran pengguna untuk melindungi data pribadi sama pentingnya dengan tanggung jawab penyedia layanan. Praktik sederhana seperti menjaga kerahasiaan OTP, menggunakan autentikasi ganda, dan memahami kebijakan privasi dapat mengurangi risiko penyalahgunaan data.

Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana mengumpulkan dan memanfaatkan data, tetapi bagaimana menjaga kepercayaan publik. Jika dikelola dengan baik, data pribadi akan tetap menjadi aset strategis yang mendorong inklusi keuangan dan inovasi. Sebaliknya, tanpa tata kelola yang kuat, data dapat berubah menjadi sumber risiko yang menghambat pertumbuhan industri fintech itu sendiri.

  • Penulis: Dara Harun Assegaf

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Oracle PHK massal

    Oracle Mendadak PHK Massal Karyawan, Tapi Kedapatan Rekrut Tenaga Asing

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 42
    • 0Komentar

    Teknoloji, Austin – Oracle tengah menjadi sorotan setelah laporan mengenai gelombang PHK di perusahaan itu muncul hampir bersamaan dengan data yang menunjukkan bahwa raksasa teknologi asal Amerika Serikat tersebut masih aktif mengajukan visa kerja H-1B untuk tenaga asing. Dua isu itu, yakni pemangkasan karyawan dan pengajuan visa kerja, langsung memicu respons keras, terutama di kalangan […]

  • Samsung 6G

    Samsung Uji Teknologi 6G yang Kecepatannya Tembus 3 Gbps

    • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 29
    • 0Komentar

    Teknoloji, Suwon – Samsung mengumumkan keberhasilan pengujian teknologi kunci yang digadang-gadang menjadi fondasi jaringan 6G di masa depan. Seperti apakah hasil dari pengujian ini? Seperti diketahui, selain dikenal sebagai produsen smartphone, Samsung juga aktif dalam riset dan pengembangan perangkat jaringan telekomunikasi, bersaing dengan pemain global seperti Ericsson, Nokia, dan Huawei dalam membangun infrastruktur generasi berikutnya. Dilansir […]

  • RUPSt ITSEC Asia

    Kebutuhan Cyber Security Melonjak, ITSEC Asia Rombak Manajemen

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 15
    • 0Komentar

    Teknoloji, Jakarta – Kesadaran akan pentingnya perlindungan data di Indonesia tampaknya sudah bergeser dari sekadar “pilihan” menjadi “kebutuhan mutlak”. Di tengah maraknya isu kebocoran data dan serangan siber yang kian canggih, emiten teknologi spesialis keamanan siber, PT ITSEC Asia Tbk (IDX: CYBR), mengambil langkah taktis untuk memperkokoh posisinya di pasar domestik. Melalui Rapat Umum Pemegang […]

  • realme c100

    realme C100 Siap Meluncur, Smartphone “Badak” dengan Standar Militer

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 22
    • 0Komentar

    Teknoloji, Jakarta – Pernah merasa was-was saat scrolling TikTok di bawah rintik hujan atau panik saat HP tak sengaja terjun bebas dari meja? Untuk anak muda Indonesia yang mobilitasnya setinggi awan, drama-drama kecil seperti ini sering kali jadi pengganggu hari. Menjawab keresahan tersebut, realme resmi memperkenalkan realme C100, sebuah perangkat yang mengusung filosofi “Aman Ajaaa”. […]

  • Gedung Indosat

    Kinerja Indosat 2025 Tumbuh Positif Sampai Dobel Digit!

    • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 42
    • 0Komentar

    Teknoloji, Jakarta – PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (IDX: ISAT) mengawali 2026 dengan momentum yang solid setelah menutup kuartal terakhir 2025 dengan kinerja keuangan yang menguat. Di tengah persaingan industri telekomunikasi yang semakin ketat, Indosat mencatat pertumbuhan pendapatan kuartalan sebesar 9% (quarter-on-quarter) menjadi Rp15,36 triliun. Tak hanya pendapatan, laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk […]

  • Music streaming

    Era Streaming Bikin Lagu Zaman Now Makin Simpel dan Narsis

    • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 30
    • 0Komentar

    Teknoloji, Paris – Pernah nggak sih kamu merasa kalau lagu-lagu zaman now liriknya cuma diulang-ulang dan kurang puitis dibanding lagu jadul? Atau mungkin kamu sering dengar orang tua (atau bahkan diri sendiri) ngomel, “Duh, lagu sekarang liriknya nggak ada maknanya!” Tenang, itu bukan cuma perasaan kamu atau tanda kalau kamu makin tua dan cranky. Sebuah […]

expand_less