Kinerja Indosat 2025 Tumbuh Positif Sampai Dobel Digit!
- account_circle Dara Harun Assegaf
- calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
- visibility 19
- comment 0 komentar
- print Cetak

Gedung Indosat (foto: Indosat)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Teknoloji, Jakarta – PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (IDX: ISAT) mengawali 2026 dengan momentum yang solid setelah menutup kuartal terakhir 2025 dengan kinerja keuangan yang menguat. Di tengah persaingan industri telekomunikasi yang semakin ketat, Indosat mencatat pertumbuhan pendapatan kuartalan sebesar 9% (quarter-on-quarter) menjadi Rp15,36 triliun.
Tak hanya pendapatan, laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk juga melonjak signifikan, tumbuh 53,5% secara kuartalan dan 12,2% secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp5,5 triliun. Sementara itu, EBITDA meningkat 12% menjadi Rp26,6 triliun, di manabertumbuh lebih cepat dibandingkan pendapatan, yang menunjukkan efisiensi operasional dan fundamental keuangan yang semakin kuat.
President Director & CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, menyebut capaian ini sebagai fondasi penting untuk melangkah ke 2026. Menurutnya, pertumbuhan pendapatan yang kuat, peningkatan profitabilitas, serta kinerja laba bersih yang solid mencerminkan strategi perusahaan yang berjalan konsisten.
“Kami menutup tahun 2025 dengan momentum yang kuat, mencapai panduan kinerja yang telah ditetapkan, serta mengakhiri tahun dengan fondasi yang solid untuk melaju ke 2026,” ujarnya melalui keterangan resmi yang diterima Teknoloji, Senin (9/2/2026).
AI Jadi Pendorong Utama
Indosat mencatat Average Revenue Per User (ARPU) meningkat menjadi Rp44 ribu. Kenaikan ini didorong oleh pendekatan personalisasi berbasis kecerdasan artifisial (AI), penguatan jaringan, serta peningkatan pengalaman pelanggan. Menurut Vikram, transformasi berbasis AI menjadi salah satu diferensiasi utama perusahaan.
“Pertumbuhan ARPU yang progresif didorong oleh personalisasi berbasis AI, penguatan jaringan, serta fokus konsisten kami dalam menghadirkan pengalaman pelanggan yang luar biasa,” jelasnya.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah fitur AI-powered 360 Scam and Spam Protection, yang dirancang melindungi pelanggan dari penipuan digital di berbagai kanal komunikasi. Inisiatif ini relevan dengan kondisi Indonesia, mengingat data OJK menunjukkan kerugian akibat penipuan digital telah mencapai triliunan rupiah dalam beberapa tahun terakhir.
Terkait implementasi AI, Indosat menegaskan komitmennya untuk menjadi perusahaan berbasis AI dengan mengintegrasikan kecerdasan artifisial ke dalam operasional jaringan dan layanan pelanggan. Pendekatan ini mencakup pemanfaatan analitik data untuk meningkatkan kualitas layanan, optimasi kapasitas jaringan secara real-time, serta personalisasi penawaran.
Transformasi ini juga sejalan dengan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan mencapai US$ 130 miliar pada 2025 menurut laporan Google, Temasek, dan Bain & Company. Dalam ekosistem digital yang semakin kompetitif, kemampuan memanfaatkan data dan AI menjadi faktor kunci keberlanjutan bisnis.
Selain pertumbuhan bisnis, Indosat menempatkan keamanan dan kepercayaan digital sebagai prioritas utama. Hal ini penting mengingat tingginya tingkat adopsi layanan digital di Indonesia, termasuk mobile banking, e-commerce, dan aplikasi pesan instan.
Dengan investasi berkelanjutan pada infrastruktur digital, operasional berbasis data, serta inovasi yang berfokus pada pelanggan, Indosat berupaya menciptakan ekosistem digital yang tangguh, inklusif, dan siap menghadapi masa depan.
Dorong Pengalaman Pelanggan lewat 5G dan HiFi Air
Seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap konektivitas digital, baik untuk bekerja, belajar, maupun berbisnis, Indosat memperluas layanan 5G dan solusi fixed wireless access (FWA) melalui brand HiFi Air.
Hingga akhir 2025, layanan 5G dan HiFi Air telah tersedia di 24 kota di Indonesia, dengan total pelanggan Home Broadband (HBB) mencapai sekitar 400.000. Langkah ini sejalan dengan tren konsumsi data nasional yang terus meningkat.
Berdasarkan laporan APJII 2024, penetrasi internet Indonesia telah melampaui 78% populasi, dengan konsumsi data seluler menjadi pendorong utama pertumbuhan trafik. Kondisi ini tentunya membuat operator telekomunikasi perlu berinvestasi pada jaringan yang lebih cepat, stabil, dan adaptif.
- Penulis: Dara Harun Assegaf

Saat ini belum ada komentar