Tips & Trick
light_mode
Trending Tags
Maaf, tidak ditemukan tags pada periode waktu yang ditentukan.
Beranda » Technology » Oracle Mendadak PHK Massal Karyawan, Tapi Kedapatan Rekrut Tenaga Asing

Oracle Mendadak PHK Massal Karyawan, Tapi Kedapatan Rekrut Tenaga Asing

  • account_circle Dara Harun Assegaf
  • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
  • visibility 62
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Teknoloji, Austin – Oracle tengah menjadi sorotan setelah laporan mengenai gelombang PHK di perusahaan itu muncul hampir bersamaan dengan data yang menunjukkan bahwa raksasa teknologi asal Amerika Serikat tersebut masih aktif mengajukan visa kerja H-1B untuk tenaga asing.

Dua isu itu, yakni pemangkasan karyawan dan pengajuan visa kerja, langsung memicu respons keras, terutama di kalangan pekerja teknologi. Bagi banyak orang, kombinasi keduanya terlihat janggal: di satu sisi perusahaan merumahkan pegawai, tetapi di sisi lain tetap menjalankan proses perekrutan atau perpanjangan tenaga kerja asing untuk posisi tertentu.

PHK Disebut Terjadi Mendadak Lewat Email

Seperti dilansir Business Insider, Senin (4/6/2026), laporan mengenai PHK Oracle mulai ramai pada 31 Maret, ketika sejumlah karyawan mengaku menerima email pada pagi hari yang memberi tahu bahwa hari itu adalah hari kerja terakhir mereka. Beberapa laporan menyebut notifikasi dikirim sangat pagi, dan akses ke sistem internal perusahaan segera dinonaktifkan setelah pemberitahuan diberikan.

Isi email yang beredar menyebut keputusan itu diambil sebagai bagian dari perubahan organisasi yang lebih luas dan penyesuaian terhadap kebutuhan bisnis Oracle saat ini. Sampai sekarang, Oracle belum memberikan penjelasan publik yang rinci mengenai berapa total karyawan yang terdampak secara global.

Yang sudah mulai terlihat, PHK ini disebut menyentuh sejumlah area penting di dalam perusahaan, termasuk unit cloud, sales, customer success, Oracle Health, hingga NetSuite. Ini menunjukkan bahwa langkah efisiensi yang diambil tidak terbatas pada satu tim atau satu fungsi tertentu saja.

Di Saat Bersamaan, Data H-1B Ikut Jadi Sorotan

Polemik mulai membesar ketika data yang dikutip media AS menunjukkan bahwa Oracle tercatat telah mengajukan sekitar 3.126 petisi H-1B sepanjang tahun fiskal 2025 dan 2026, dengan sekitar 436 pengajuan tercatat sejauh tahun ini. Angka ini kemudian memicu perdebatan soal bagaimana perusahaan teknologi mengelola tenaga kerja di tengah fase restrukturisasi besar-besaran.

Sebagai konteks, H-1B adalah visa kerja di Amerika Serikat yang memungkinkan perusahaan mempekerjakan tenaga asing untuk posisi yang membutuhkan keahlian khusus, termasuk di bidang teknologi, software engineering, data, dan AI.

Bagi perusahaan teknologi, program ini selama bertahun-tahun dianggap penting untuk mengisi peran yang dinilai sulit dipenuhi hanya dari talent pool domestik. Namun pada saat yang sama, H-1B juga terus menjadi topik sensitif, terutama ketika kondisi pasar kerja sedang tidak stabil.

Yang juga penting dicatat: pengajuan H-1B tidak selalu berarti perekrutan baru. Dalam banyak kasus, petisi bisa diajukan untuk perpanjangan, perpindahan status, atau kelanjutan kerja karyawan yang sudah lebih dulu ada di dalam sistem perusahaan. Meski begitu, dari sudut pandang publik, waktu munculnya dua kabar ini tetap membuat narasinya terasa problematik.

Kritik Karyawan dan Netizen Mulai Bermunculan

Reaksi keras mulai terlihat di media sosial dan forum internal pekerja teknologi seperti Blind, tempat banyak karyawan teknologi berbagi opini secara anonim.

Sebagian pengguna menyebut kabar pengajuan H-1B di tengah PHK sebagai sesuatu yang sulit diterima, terutama bagi pekerja yang baru saja kehilangan posisi setelah bertahun-tahun bekerja di perusahaan. Kritik lain juga bermunculan dengan nada yang lebih luas: bahwa praktik memangkas tenaga kerja lalu merekrut ulang dalam struktur biaya berbeda sudah menjadi pola yang semakin sering terlihat di industri teknologi.

Terlepas dari nada emosional yang menyertainya, reaksi seperti ini sebenarnya mencerminkan keresahan yang lebih besar. Banyak pekerja teknologi saat ini merasa arah industri semakin sulit diprediksi. Perusahaan berbicara soal efisiensi, AI, dan restrukturisasi, tetapi pada saat yang sama tetap membangun kapasitas baru di area-area yang dianggap lebih strategis.

Oracle Sedang Menekan Biaya di Tengah Dorongan AI

Kalau dilihat lebih jauh, langkah Oracle ini kemungkinan tidak bisa dipisahkan dari strategi bisnis yang lebih besar. Beberapa laporan menyebut perusahaan sedang berupaya menekan biaya operasional di tengah ekspansi besar-besaran pada infrastruktur AI dan data center.

Oracle sendiri belakangan semakin agresif membangun posisi di bisnis cloud dan AI enterprise, termasuk lewat investasi besar di kapasitas komputasi dan pusat data. Dalam konteks itu, PHK tidak selalu berarti perusahaan sedang melemah.

Dalam banyak kasus, langkah seperti ini justru mencerminkan pergeseran prioritas: memangkas fungsi yang dinilai kurang strategis, sambil tetap membuka ruang untuk perekrutan di bidang yang lebih relevan dengan arah bisnis baru.

Masalahnya, penjelasan seperti itu tentu tidak serta-merta meredakan frustrasi dari karyawan yang terdampak langsung. Apa yang terjadi di Oracle juga sebenarnya mencerminkan tren yang lebih luas di industri teknologi saat ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak perusahaan besar yang terlihat melakukan dua hal secara bersamaan: mengurangi tenaga kerja secara besar-besaran, sambil tetap merekrut secara selektif untuk posisi tertentu, khususnya yang berkaitan dengan AI, cloud, dan infrastruktur teknis tingkat tinggi.

Di atas kertas, langkah ini mungkin bisa dijelaskan sebagai “realokasi sumber daya”. Tapi di level tenaga kerja, realitasnya jauh lebih rumit. Bagi banyak pekerja, ini terasa seperti tanda bahwa pasar kerja teknologi sedang bergeser ke arah yang semakin kompetitif, lebih tidak pasti, dan lebih menuntut spesialisasi tertentu.

Karena itu, polemik Oracle ini pada akhirnya bukan hanya soal PHK atau H-1B semata. Isunya jauh lebih besar: siapa yang dipertahankan, siapa yang digantikan, dan seperti apa wajah tenaga kerja industri teknologi ke depan.

Hingga saat ini Oracle belum memberikan tanggapan rinci yang secara langsung menjawab kritik terkait waktu pengajuan H-1B di tengah gelombang PHK tersebut.

Namun satu hal yang sudah jelas: di tengah tekanan efisiensi dan perlombaan membangun bisnis AI, keputusan perusahaan teknologi besar kini tidak lagi hanya dinilai dari laporan keuangan atau strategi produk, tetapi juga dari bagaimana mereka memperlakukan tenaga kerja mereka sendiri.

Dan ketika dua isu sensitif seperti PHK massal dan visa kerja asing muncul dalam waktu yang hampir bersamaan, reaksi keras dari publik nyaris tidak terhindarkan.

  • Penulis: Dara Harun Assegaf

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Digitalisasi bansos ilustrasi ok

    Digitalisasi Bansos Meluas, Apakah Keamanan Data Masyarakat Sudah Siap?

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 59
    • 0Komentar

    Jakarta, Teknoloji – Pemerintah memperluas proyek percontohan digitalisasi bantuan sosial (bansos) pada 2026 ke 41 kabupaten/kota di 25 provinsi. Menariknya, sekitar 78% lokasi piloting berada di luar Pulau Jawa yang diyakini menjadi sebuah langkah strategis untuk memastikan transformasi layanan publik menjangkau wilayah yang selama ini menghadapi tantangan akses dan infrastruktur digital. Perluasan ini menegaskan peran […]

  • iQOO Z11 5G ok

    Bawa Baterai ‘Monster’ 9,020 mAh, iQOO Z11 5G Siap Masuk Indonesia

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 40
    • 0Komentar

    Teknoloji, Jakarta – Bagi masyarakat urban Indonesia, ketergantungan pada powerbank atau sibuk mencari colokan di kafe sudah menjadi bagian dari rutinitas harian. Fenomena “anxiety baterai lemah” ini tampaknya ditangkap dengan sangat baik oleh iQOO. Brand yang populer dengan performa kencangnya ini baru saja menggebrak pasar global lewat peluncuran iQOO Z11 5G. Bukan sekadar peningkatan minor, […]

  • Lazada 12.12

    Lazada 12.12 Hadir Lagi, Kasih Diskon Besar, hingga Promo Berhadiah Mobil

    • calendar_month Minggu, 14 Des 2025
    • account_circle Fajar Surya
    • visibility 60
    • 0Komentar

    Jakarta – Menjelang akhir tahun, tren belanja online biasanya meningkat pesat. Entah itu untuk persiapan liburan, kebutuhan rumah tangga, atau sekadar memberi hadiah untuk diri sendiri setelah setahun bekerja keras. Memahami kebutuhan ini, Lazada kembali menggelar festival belanja tahunan mereka, Lazada 12.12 Promo Habis-Habisan, yang akan berlangsung mulai 11 Desember (pukul 20.00 WIB) hingga 14 […]

  • Samsung One UI 8

    Samsung One UI Jadi Android Skin Favorit Tahun Ini!

    • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
    • account_circle Fajar Surya
    • visibility 43
    • 0Komentar

    San Fransico, Teknoloji – Samsung One UI berhasi menempati urutan teratas sebagai Skin Andorid terbaik tahun ini. Apa sih yang bikin UI ini jadi favorit? Adalah GSM Arena yang telah melakukan voting kepada pembacanya pada minggu lalu. Hingga akhirnya hasil voting dikeluarkan, ternyata menempatkan Samsung One UI sebagai pemenangnya dengan meraup 41% dari total suara, […]

  • Galaxy Buds 4 dan Galaxy S26

    Samsung Galaxy Buds 4 Series Resmi Meluncur Bareng Galaxy S26 Series

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 40
    • 0Komentar

    Teknoloji, San Fransisco – Bersamaan dengan peluncuran Galaxy S26 Series, Samsung juga memperkenalkan generasi terbaru true wireless stereo (TWS), yakni Samsung Galaxy Buds 4 dan Galaxy Buds 4 Pro. Menariknya, sebelum merancang produk ini Samsung mengaku melakukan survei internal terhadap penggunanya. Hasilnya, sebanyak 58% responden menggunakan earbuds setiap hari, dan mayoritas menempatkan kualitas suara sebagai […]

  • Vint Cerf

    “Bapak Internet” Dunia Vint Cerf Resmi Pensiun dari Google

    • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 40
    • 0Komentar

    Teknoloji, California – Sebuah era penting dalam sejarah teknologi resmi berganti. Vinton “Vint” Cerf, sosok legendaris yang menyandang gelar Chief Internet Evangelist di Google, memutuskan untuk mundur dari jabatannya setelah lebih dari dua dekade mengabdi. Melansir laporan dari TechCrunch, Senin (6/7/2026), raksasa teknologi Google telah mengonfirmasi kepergian salah satu figur paling berpengaruh dalam ekosistem digital […]

expand_less