Perang Terbuka Dua Raksasa Kamera Kreator: Insta360 Gugat Balik DJI
- account_circle Dara Harun Assegaf
- calendar_month Minggu, 14 Jun 2026
- visibility 21
- comment 0 komentar
- print Cetak

Insta360 vs DJI (Foto: GSMArena)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Teknoloji, California – Jika kamu mengira persaingan di industri kamera saku dan action cam hanya sebatas adu tajam sensor dan kecanggihan kecerdasan buatan (AI), kamu keliru. Di balik layar, kompetisi panas ini baru saja meledak menjadi “perang hukum” terbuka. Dua jawara teknologi konten kreator, DJI dan Insta360, resmi terlibat dalam aksi saling gugat terkait pelanggaran hak paten di pengadilan Amerika Serikat.
Drama hukum ini dipicu oleh peluncuran produk terbaru Insta360 yang sangat diantisipasi, Insta360 Luna Ultra yang merupakan kamera gimbal genggam bertenaga sensor 1 inci dan optik Leica yang membidik langsung pasar DJI Osmo Pocket series. Merasa pasarnya diusik, DJI langsung melayangkan gugatan di hari yang sama. Tak butuh waktu lama bagi Insta360 untuk melepaskan serangan balasan yang tidak kalah agresif.
Kronologi Saling Sengat di Hari Peluncuran
Baku hantam hukum ini bermula pada pekan lalu, tepat di hari Insta360 resmi menjual Luna Ultra di pasar global. DJI bertindak cepat dengan mendaftarkan dua gugatan sekaligus di Pengadilan Distrik Timur Texas.
Raksasa drone asal Shenzhen tersebut menuduh Insta360 melakukan plagiarisme massal terhadap lini Osmo Pocket mereka. Gugatan DJI mencakup:
- Paten Desain: DJI mengeklaim bentuk fisik Luna Ultra mulai dari bodi memanjang, mekanisme leher gimbal, hingga layar yang bisa diputar, dianggap meniru mentah-mentah desain ikonik Osmo Pocket.
- Paten Utilitas: Meliputi teknologi pelacakan objek (subject tracking) terintegrasi tanpa aplikasi, serta sistem tombol tunggal untuk berpindah mode gimbal. DJI menuntut ganti rugi materiil dan meminta pengadilan mengeluarkan larangan penjualan permanen untuk Insta360 Luna Ultra di Amerika Serikat.
Namun, alih-alih ciut, Insta360 langsung membalikkan keadaan dalam waktu kurang dari 24 jam. Mereka mendaftarkan gugatan balik (countersuit) yang justru mengincar hampir seluruh lini produk stabilisasi andalan DJI, mulai dari Osmo Pocket series, rangkaian gimbal kamera profesional Ronin/RS series, gimbal HP Osmo Mobile, hingga kamera teranyar DJI Osmo 360.
Insta360 mengeklaim bahwa DJI telah melanggar lima paten utilitas milik mereka yang berkaitan dengan stabilitas gimbal, kontrol arah, penyelarasan video panoramik, hingga teknologi telemetry overlay.
Pendiri Insta360 Tidak Takut Perang Hukum
Pihak Insta360 secara tegas menolak tuduhan DJI dan menyebut bahwa proyek Luna Ultra sudah dikembangkan secara mandiri sejak tahun 2020, jauh sebelum kompetitor menelurkan produk serupa.
Pendiri Insta360, JK Liu, memberikan pernyataan menohok terkait aksi jeggal yang dilakukan oleh kompetitor utamanya tersebut:
“Di Insta360, kami lebih suka membiarkan produk kami yang berbicara. Namun, kami tidak takut menghadapi pertempuran hukum ketika ditantang. Kami berkomitmen penuh untuk melindungi inovasi kami dan akan mengambil tindakan tegas untuk membela kekayaan intelektual kami dari pelanggaran,” tegas JK Liu.
Ia menambahkan, fakta bahwa DJI mengajukan gugatan tepat di hari pihaknya meluncurkan Luna Ultra menunjukkan banyak hal yang dianggapnya mengekspos ketakutan mereka terhadap persaingan dari produk yang sangat kompetitif.
Pertarungan hukum di AS ini sebenarnya merupakan imbas dari masalah geopolitik yang menjepit DJI. Sejak akhir tahun lalu, DJI masuk dalam daftar pengawasan ketat FCC di AS yang membatasi ruang gerak mereka untuk menjual produk baru dengan bebas. Celah inilah yang dimanfaatkan Insta360 dengan memasukkan Luna Ultra ke pasar Amerika, bahkan langsung menduduki peringkat teratas kategori camcorder di Amazon dalam 24 jam pertama.
Jika DJI berhasil memenangkan gugatan dan memblokir Insta360 di AS, peta persaingan global akan pincang. Sebaliknya, jika gugatan balik Insta360 dikabulkan, pasokan produk sinematografi komersial DJI seperti Ronin RS series yang banyak digunakan oleh rumah produksi iklan dan film di Jakarta bisa saja terganggu.
Bsa dibilang, persaingan sehat melahirkan inovasi dan harga yang kompetitif. Sebaliknya, perang paten yang berlarut-larut justru berisiko merugikan konsumen yang mendambakan pembaruan teknologi yang cepat dan terjangkau.
- Penulis: Dara Harun Assegaf

Saat ini belum ada komentar