Tips & Trick
light_mode
Trending Tags
Beranda » Geek » Mengungkap Ambisi Elon Musk Bangun Data Center Berbasis AI di Luar Angkasa

Mengungkap Ambisi Elon Musk Bangun Data Center Berbasis AI di Luar Angkasa

  • account_circle Fajar Surya
  • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
  • visibility 35
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Teknoloji, Washington – Wacana pusat data kecerdasan buatan (AI) di luar angkasa kembali mencuri perhatian setelah laporan eksklusif Reuters mengungkap rencana penggabungan SpaceX dan xAI, dua perusahaan milik Elon Musk. Jika terealisasi, langkah ini berpotensi mempercepat ambisi Musk membangun data center berbasis satelit untuk mendukung pengembangan AI, sekaligus memperkuat posisinya dalam persaingan global melawan raksasa teknologi seperti Google, Meta, dan OpenAI.

Rencana tersebut bukan sekadar eksperimen futuristik. Di tengah melonjaknya kebutuhan komputasi AI dan biaya operasional data center di Bumi yang kian mahal, luar angkasa mulai dilirik sebagai alternatif jangka panjang.

Apa Itu Data Center AI Berbasis Luar Angkasa?

Data center AI berbasis luar angkasa masih berada pada tahap awal pengembangan. Konsepnya mengandalkan ratusan hingga ribuan satelit bertenaga surya yang saling terhubung di orbit untuk menangani beban komputasi besar, seperti pelatihan dan pengoperasian model AI generatif—mulai dari Grok milik xAI hingga ChatGPT.

Keunggulan utamanya terletak pada akses energi matahari yang hampir terus-menerus serta kemampuan membuang panas langsung ke ruang angkasa. Dua faktor ini dinilai dapat memangkas biaya terbesar data center konvensional di Bumi, yakni konsumsi listrik dan sistem pendinginan.

Namun, para insinyur dan pakar antariksa mengingatkan bahwa realisasi komersialnya masih membutuhkan waktu. Tantangan besar masih membayangi, mulai dari risiko sampah antariksa, radiasi kosmik yang dapat merusak perangkat keras, keterbatasan perawatan langsung, hingga biaya peluncuran satelit yang masih tinggi.

Menurut proyeksi Deutsche Bank, uji coba data center orbital skala kecil baru akan dimulai pada periode 2027-2028. Jika hasilnya menjanjikan, jaringan satelit berskala besar, bahkan hingga ribuan unit baru berpeluang terwujud pada dekade 2030-an.

Mengapa Elon Musk Sangat Tertarik?

Bagi Elon Musk, proyek ini bukan sekadar visi futuristik. SpaceX saat ini merupakan perusahaan roket paling sukses di dunia, dengan rekam jejak peluncuran ribuan satelit Starlink ke orbit rendah Bumi. Infrastruktur ini memberi SpaceX keunggulan strategis jika komputasi AI benar-benar berpindah ke luar angkasa.

Dalam pernyataannya di World Economic Forum di Davos awal tahun ini, Musk secara terbuka menyebut bahwa membangun data center bertenaga surya di luar angkasa adalah langkah yang masuk akal. Ia bahkan meyakini bahwa dalam dua hingga tiga tahun ke depan, lokasi termurah untuk menjalankan AI justru berada di orbit.

Berdasarkan informasi yang dikutip Teknoloji dari Reuters, Jumat (30/1/2026), SpaceX tengah mempertimbangkan initial public offering (IPO) yang berpotensi menilai perusahaan tersebut lebih dari US$1 triliun. Sebagian dana hasil IPO disebut akan dialokasikan untuk pengembangan satelit data center AI.

Apa yang Dilakukan Para Pesaing?

Ambisi Musk bukan satu-satunya. Jeff Bezos, melalui Blue Origin, telah lama mengeksplorasi teknologi serupa. Bezos sebelumnya memprediksi bahwa data center raksasa berdaya gigawatt di luar angkasa dapat mengungguli data center Bumi dalam 10 hingga 20 tahun, berkat energi surya tanpa henti dan pembuangan panas alami.

Sementara itu, perusahaan rintisan Starcloud, yang didukung Nvidia, telah melangkah lebih jauh. Satelit Starcloud-1, yang diluncurkan menggunakan roket Falcon 9 bulan lalu, membawa chip Nvidia H100, sebuah chip AI paling canggih yang pernah ditempatkan di orbit. Satelit ini saat ini digunakan untuk melatih dan menjalankan model AI open-source Gemma milik Google sebagai bukti konsep.

Starcloud menargetkan pembangunan “hypercluster” modular di orbit dengan kapasitas komputasi hingga lima gigawatt, setara gabungan beberapa data center hyperscale di Bumi.

Google pun tak tinggal diam. Melalui Project Suncatcher, raksasa teknologi ini meneliti jaringan satelit bertenaga surya yang dilengkapi Tensor Processing Unit (TPU) untuk membangun cloud AI di orbit. Google menargetkan peluncuran prototipe awal bersama Planet Labs sekitar tahun 2027.

Tak hanya perusahaan Barat, China juga mulai serius menggarap konsep serupa. Media pemerintah setempat melaporkan rencana pembangunan “Space Cloud”, yakni jaringan data center AI berbasis luar angkasa dalam lima tahun ke depan. Kontraktor antariksa utama China, China Aerospace Science and Technology Corporation, bahkan menargetkan pembangunan infrastruktur AI digital kelas gigawatt di orbit sesuai rencana pembangunan lima tahunan mereka.

Masa Depan Komputasi AI?

Meski masih sarat tantangan teknis dan biaya, data center AI berbasis luar angkasa mulai dipandang sebagai jawaban jangka panjang atas kebutuhan komputasi global yang terus melonjak. Jika berhasil, konsep ini berpotensi mengubah cara dunia membangun dan mengoperasikan infrastruktur AI dari permukaan Bumi ke orbit.

Baca juga: Tesla Siapkan Teknologi Internet Starlink di Atas Atap Mobil

Namun untuk saat ini, ambisi tersebut masih berada di persimpangan antara visi besar dan realitas teknologi. Beberapa tahun ke depan akan menjadi periode krusial untuk menentukan apakah AI di luar angkasa benar-benar menjadi masa depan, atau sekadar mimpi mahal yang sulit diwujudkan.

  • Penulis: Fajar Surya

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Huawei GT Runner 2

    Gandeng Eliud Kipchoge, Huawei Siap Luncurkan GT Runner 2

    • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 22
    • 0Komentar

    Teknoloji, Shenzhen – Bagi kamu pengguna Huawei Watch GT Runner, siap-siap karna GT Runner 2 akan diluncurkan dalam waktu dekat. Fitur apa sih yang menarik? Ya, Huawei dijadwalkan menggelar acara peluncuran global pada 26 Februari 2026, menghadirkan sejumlah perangkat baru untuk pasar internasional. Salah satu yang paling dinantikan adalah Huawei Watch GT Runner 2, penerus Watch […]

  • YouTube Watch Later

    Cara Menghapus Daftar “Watch Later” YouTube Secara Total dengan Aman

    • calendar_month Selasa, 9 Des 2025
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 34
    • 0Komentar

    Sama halnya dengan fitur Bookmark di X (Twitter), tombol “Watch Later” YouTube sering kali jadi tempat penampungan digital favorit kita. Niat hati ingin menonton videonya nanti saat senggang, tapi realitanya? Video menumpuk sampai ratusan, bahkan ribuan, dan tidak pernah disentuh sama sekali. Jujur saja, saat daftar itu sudah mencapai angka ribuan, kita pasti sadar bahwa […]

  • Baterai Tanpa Anoda Ini Bikin Jarak Tempuh Mobil Listrik Makin Jauh

    Baterai Tanpa Anoda Ini Bikin Jarak Tempuh Mobil Listrik Makin Jauh

    • calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 25
    • 0Komentar

    Teknoloji, Seoul – Kabar gembira buat kamu yang masih ragu beralih ke mobil listrik (EV) karena takut baterai cepat habis atau drop saat cuaca dingin. Sekelompok ilmuwan jenius dari Korea Selatan baru saja mengumumkan terobosan besar. Tim gabungan dari POSTECH, KAIST, dan Gyeongsang National University berhasil mengembangkan teknologi baterai logam lithium “tanpa anoda” (anode-free). Klaimnya […]

  • Gedung Indosat

    Kinerja Indosat 2025 Tumbuh Positif Sampai Dobel Digit!

    • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 20
    • 0Komentar

    Teknoloji, Jakarta – PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (IDX: ISAT) mengawali 2026 dengan momentum yang solid setelah menutup kuartal terakhir 2025 dengan kinerja keuangan yang menguat. Di tengah persaingan industri telekomunikasi yang semakin ketat, Indosat mencatat pertumbuhan pendapatan kuartalan sebesar 9% (quarter-on-quarter) menjadi Rp15,36 triliun. Tak hanya pendapatan, laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk […]

  • Data Pribadi fintech

    Mengapa Data Pribadi Menjadi Aset Paling Mahal di Industri Fintech?

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 26
    • 0Komentar

    Jakarta, Teknoloji – Di era layanan keuangan digital, data pribadi bukan lagi sekadar informasi pendukung, tapi telah menjelma menjadi aset strategis bernilai tinggi. Setiap nama, nomor identitas, riwayat transaksi, lokasi, hingga kebiasaan belanja membentuk profil perilaku dan risiko pengguna. Dari sudut pandang fintech, kumpulan data ini memungkinkan layanan keuangan berjalan lebih cepat, tepat sasaran, dan […]

  • Samsung Galaxy S26

    Samsung Galaxy S26 Bisa Terhubung dengan Sinyal Satelit?

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • account_circle Fajar Surya
    • visibility 57
    • 0Komentar

    Teknoloji, San Fransisco – Seri Samsung Galaxy S26 yang diperkirakan akan diperkenalkan dalam waktu dekat mulai menunjukkan petunjuk penting terkait fitur barunya. Seluruh model dalam lini ini, seperti Galaxy S26, Galaxy S26+, dan Galaxy S26 Ultra terpantau telah muncul dalam database Federal Communications Commission (FCC) Amerika Serikat, sekaligus mengungkap detail awal soal kemampuan konektivitasnya. Berdasarkan […]

expand_less