AI Kini Bisa Berbelanja Sendiri, American Express Siapkan Sistem untuk Cegah Transaksi Tanpa Izin
- account_circle Dara Harun Assegaf
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

American Express Intelligence Framework Agentic Commerce (Foto: American Express).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Teknoloji – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin berkembang. Jika sebelumnya teknologi ini lebih banyak digunakan untuk mencari informasi, membuat konten, atau menjawab pertanyaan, kini AI mulai mampu melakukan transaksi belanja atas nama penggunanya.
Namun, kemampuan tersebut membawa persoalan baru. Bagaimana jika AI membeli barang yang salah, mengeluarkan uang melebihi anggaran, atau melakukan transaksi yang sebenarnya tidak pernah disetujui pengguna? Persoalan inilah yang ingin dijawab oleh American Express melalui teknologi keamanan terbarunya.
Pada Selasa (13/10/2026), perusahaan layanan pembayaran asal Amerika Serikat tersebut memperkenalkan Intent Intelligence Framework, sebuah kerangka teknologi yang dirancang untuk memastikan transaksi yang dilakukan agen AI tetap sesuai dengan instruksi dan persetujuan pemilik akun.
Teknologi ini menjadi bagian dari upaya American Express membangun sistem pembayaran yang lebih aman di tengah berkembangnya tren agentic commerce, yakni aktivitas perdagangan digital yang melibatkan agen AI sebagai pelaksana transaksi.
Ketika AI Tidak Lagi Sekadar Memberikan Rekomendasi
Selama ini, penggunaan AI dalam belanja online umumnya terbatas pada pencarian produk, perbandingan harga, dan rekomendasi berdasarkan kebutuhan konsumen. Namun, perkembangan AI agent memungkinkan teknologi tersebut mengambil langkah lebih jauh.
Pengguna, misalnya, dapat meminta AI mencari sepatu olahraga dengan ukuran tertentu, membandingkan harga dari beberapa toko, lalu menyelesaikan pembelian sesuai anggaran yang telah ditentukan. Dalam skenario tersebut, AI tidak hanya membantu mengambil keputusan, tetapi juga menjalankan transaksi.
Masalah muncul ketika AI salah memahami instruksi atau melakukan tindakan di luar batas yang diberikan pengguna. Hal ini berkaitan dengan karakteristik model bahasa besar atau *large language model* (LLM), yang tidak selalu menghasilkan keputusan identik meskipun menerima instruksi serupa.
Akibatnya, terdapat kemungkinan agen AI memilih produk yang keliru, mengabaikan batas anggaran, atau melakukan pembelian yang tidak sesuai dengan keinginan konsumen. Risiko tersebut menjadi semakin penting ketika AI memiliki akses langsung terhadap metode pembayaran.
American Express Perkenalkan Intent Intelligence Framework
Untuk mengantisipasi persoalan tersebut, American Express mengembangkan sistem yang dapat mencatat dan memverifikasi maksud pembelian pengguna sebelum transaksi dilakukan.
Melalui Intent Intelligence Framework, instruksi pengguna tidak hanya diproses oleh AI, tetapi juga disimpan sebagai acuan untuk memeriksa kesesuaian transaksi.
Sistem ini memungkinkan informasi seperti nama merchant, batas anggaran, dan preferensi produk menjadi bagian dari persetujuan pembelian.
Luke Gebb, Head of Global Innovation American Express, menegaskan bahwa kepercayaan menjadi faktor penting dalam perkembangan transaksi berbasis AI.
“Membangun kepercayaan dalam transaksi yang didukung AI sangat penting bagi adopsi agentic commerce,” ujar Gebb dalam pernyataan resminya, Selasa (13/10/2026).
Menurutnya, informasi mengenai persetujuan pembelian yang diberikan sebelum transaksi dapat membantu penerbit kartu memastikan bahwa agen AI benar-benar bertindak sesuai dengan keinginan pelanggan. Pendekatan tersebut juga diharapkan dapat membantu mengelola risiko serta mengurangi kemungkinan sengketa pembayaran.
Bagaimana Sistem Ini Bekerja?
Intent Intelligence Framework bekerja dengan menghubungkan instruksi pengguna, proses autentikasi, dan transaksi pembayaran. Tahap awal dilakukan melalui Create Intent API, yang berfungsi mencatat kebutuhan serta batasan pembelian yang diberikan konsumen.
Sebagai contoh, seseorang meminta AI membeli sepatu lari merek tertentu dengan ukuran dan harga maksimal yang sudah ditetapkan. Instruksi tersebut kemudian dicatat sebagai dasar otorisasi.
Setelah itu, pengguna melakukan autentikasi identitas dan menyetujui informasi pembelian yang telah dikumpulkan. Sistem selanjutnya menghasilkan dua komponen penting, yakni Intent ID dan Proof of Intent Token.
Intent ID merupakan identitas unik yang mewakili instruksi pembelian pengguna. Sementara itu, Proof of Intent Token memuat informasi mengenai batasan utama transaksi yang telah disetujui.
Token tersebut digunakan untuk memperoleh kredensial pembayaran digital yang aman sehingga agen AI tidak perlu menggunakan nomor kartu kredit asli pengguna ketika menyelesaikan transaksi.
Dengan mekanisme ini, sistem pembayaran dapat memeriksa apakah transaksi yang dilakukan AI masih sesuai dengan persetujuan awal. Apabila pengguna meminta sepatu dari merek tertentu, tetapi AI justru memilih merek berbeda, ketidaksesuaian tersebut dapat menjadi dasar untuk mencegah transaksi diproses.
Pendekatan ini berbeda dengan sistem yang hanya meminta persetujuan pengguna pada tahap akhir pembelian. American Express berupaya menghadirkan informasi otorisasi lebih awal agar pemeriksaan dapat dilakukan sebelum risiko transaksi terjadi.
Konsumen Mulai Tertarik Menggunakan AI untuk Belanja
Pengembangan teknologi ini juga didorong oleh meningkatnya minat konsumen terhadap penggunaan AI dalam aktivitas belanja. Berdasarkan laporan American Express Trendex, sebanyak 66% konsumen Amerika Serikat yang disurvei menyatakan kemungkinan menggunakan agen AI untuk mencari harga terbaik dalam 12 bulan mendatang. Sementara itu, 61% responden menyatakan kemungkinan menggunakan AI untuk memperoleh rekomendasi produk atau layanan.
Angka tersebut memperlihatkan adanya minat terhadap pemanfaatan AI dalam proses pengambilan keputusan belanja. Meski demikian, ketertarikan menggunakan AI untuk mencari produk belum tentu berarti konsumen bersedia menyerahkan seluruh proses pembayaran kepada teknologi tersebut.
Kepercayaan terhadap keamanan transaksi tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan. American Express sendiri menyatakan belum melihat peningkatan sengketa pembayaran yang disebabkan oleh agentic commerce. Karena itu, pengembangan Intent Intelligence Framework lebih diarahkan sebagai langkah pencegahan sebelum penggunaan agen AI dalam transaksi berkembang semakin luas.
Siapa Bertanggung Jawab Jika AI Salah Berbelanja?
Kehadiran Intent Intelligence Framework menunjukkan bahwa tantangan agentic commerce bukan semata-mata kemampuan AI menyelesaikan transaksi. Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan setiap tindakan AI dapat ditelusuri dan dipertanggungjawabkan.
Dalam transaksi konvensional, persetujuan konsumen biasanya diberikan melalui tindakan yang relatif jelas, seperti memasukkan PIN, menggunakan autentikasi biometrik, atau mengonfirmasi pembayaran. Ketika transaksi dilakukan agen AI, hubungan antara instruksi awal dan tindakan akhir menjadi lebih kompleks.
Misalnya, pengguna meminta AI membeli kebutuhan rumah tangga dengan anggaran tertentu. AI kemudian memilih produk, menentukan merchant, dan menyelesaikan pembayaran tanpa meminta persetujuan ulang untuk setiap barang. Apabila terjadi kesalahan, penyedia layanan perlu memiliki mekanisme untuk mengetahui instruksi apa yang diberikan, batas kewenangan apa yang disetujui, serta bagaimana AI mengambil keputusan.
Pencatatan instruksi dan bukti otorisasi seperti yang dikembangkan American Express dapat membantu proses tersebut. Namun, teknologi ini bukan jaminan bahwa seluruh kesalahan atau penyalahgunaan transaksi dapat dihilangkan. Keamanan agentic commerce tetap membutuhkan pengawasan, autentikasi yang kuat, pembatasan akses, serta mekanisme penyelesaian sengketa yang jelas.
- Penulis: Dara Harun Assegaf

Saat ini belum ada komentar