Tips & Trick
light_mode
Trending Tags
Maaf, tidak ditemukan tags pada periode waktu yang ditentukan.
Beranda » Technology » Mengapa Data Pribadi Menjadi Aset Paling Mahal di Industri Fintech?

Mengapa Data Pribadi Menjadi Aset Paling Mahal di Industri Fintech?

  • account_circle Fajar Surya
  • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
  • visibility 67
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jakarta, Teknoloji – Di era layanan keuangan digital, data pribadi bukan lagi sekadar informasi pendukung, tapi telah menjelma menjadi aset strategis bernilai tinggi. Setiap nama, nomor identitas, riwayat transaksi, lokasi, hingga kebiasaan belanja membentuk profil perilaku dan risiko pengguna. Dari sudut pandang fintech, kumpulan data ini memungkinkan layanan keuangan berjalan lebih cepat, tepat sasaran, dan minim risiko.

Bagi perusahaan fintech, data pengguna menjadi fondasi utama dalam berbagai proses penting: mulai dari penilaian kelayakan kredit (credit scoring), pencegahan penipuan (fraud detection), personalisasi produk, hingga pengambilan keputusan bisnis secara real-time. Nilainya bahkan sering kali melampaui nilai transaksi itu sendiri, karena data memungkinkan perusahaan memprediksi perilaku pasar dan mengelola risiko secara lebih akurat.

Nilai ekonomi data terus meningkat seiring pesatnya adopsi layanan keuangan digital. Menurut laporan e-Conomy SEA Google, Temasek, dan Bain & Company, nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai lebih dari USD 130 miliar pada 2025, dengan sektor fintech sebagai salah satu kontributor utama. Pertumbuhan ini tidak lepas dari pemanfaatan data untuk memperluas akses keuangan, terutama bagi masyarakat yang sebelumnya tidak terjangkau layanan perbankan tradisional.

Fakta menariknya, Indonesia memiliki lebih dari 270 juta penduduk dengan tingkat inklusi keuangan yang terus meningkat, mencapai sekitar 85% pada 2023 menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Artinya, semakin banyak data finansial yang dihasilkan setiap hari, sekaligus memperbesar nilai dan sensitivitas data tersebut.

Target Utama Kejahatan Siber

Ketika masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesa, Jokowi  pernah mengungkapkan bahwa data adalah jenis kekayaan baru bangsa kita dan dianggap lebih berharga dari minyak.

“Saat ini data adalah new oil. Bahkan lebih, bahkan lebih berharga dari minyak,” ungkapnya dalam perencanaan pelaksanaan sensus penduduk di Istana Negara, Jakarta, Jumat (24/1/2020), seperti dilansir CNBC Indonesia.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan ironi yang sulit diabaikan. Jika data dianggap aset paling berharga, maka perlindungannya seharusnya menjadi prioritas utama negara.

Faktanya, Indonesia berulang kali menghadapi kebocoran data berskala besar yang melibatkan institusi publik maupun ekosistem digital yang berada dalam pengawasan regulator. Insiden-insiden ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah negara telah memperlakukan “new oil” tersebut dengan standar keamanan yang setara dengan nilainya?

Padahal tingginya nilai data pribadi menjadikannya target utama kejahatan siber. Laporan IBM Cost of a Data Breach 2023 mencatat rata-rata kerugian global akibat kebocoran data mencapai US$ 4,45 juta per insiden, dengan sektor keuangan termasuk yang paling terdampak. Kebocoran data tidak hanya menimbulkan kerugian finansial, tetapi juga merusak reputasi dan kepercayaan pengguna, aset yang sangat krusial bagi layanan berbasis teknologi.

Di Indonesia, ancaman ini bukan sekadar potensi. Pada 2023, publik dikejutkan oleh dugaan kebocoran lebih dari 1,3 miliar data pribadi warga yang beredar di forum peretas oleh pelaku yang mengaku bernama Bjorka, mencakup data KTP, nomor telepon, dan alamat. Kasus ini menjadi pengingat bahwa sistem perlindungan data masih memiliki celah yang dapat dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab.

Berbagai kasus kebocoran data dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan pola yang mengarah pada lemahnya tata kelola, minimnya transparansi, serta lambatnya respons mitigasi. Alih-alih menjadi alarm untuk reformasi sistemik, banyak insiden justru berakhir tanpa kejelasan akuntabilitas. Kondisi ini memperkuat persepsi publik bahwa perlindungan data belum menjadi prioritas kebijakan yang dijalankan secara konsisten.

Jika pemerintah serius memposisikan data sebagai kekayaan strategis nasional, maka pendekatan yang dibutuhkan tidak cukup berhenti pada retorika. Diperlukan standar keamanan siber yang ketat, audit independen berkala, mekanisme notifikasi kebocoran yang transparan, serta penegakan hukum yang tegas terhadap kelalaian pengelolaan data.

Kepercayaan: Mata Uang Utama Industri Fintech

Dalam industri fintech, kepercayaan adalah mata uang utama. Tanpa jaminan keamanan data, pengguna akan ragu memanfaatkan layanan digital, yang pada akhirnya menghambat pertumbuhan industri. Karena itu, pengelolaan data pribadi bukan hanya isu teknologi, tetapi juga menyangkut perlindungan konsumen dan keberlanjutan ekosistem keuangan digital.

Pemerintah Indonesia telah merespons melalui Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) serta regulasi OJK yang menegaskan kewajiban pengelolaan data secara aman, transparan, dan bertanggung jawab. Namun, regulasi saja tidak cukup. Implementasi yang konsisten, literasi digital masyarakat, serta komitmen pelaku industri menjadi faktor penentu.

Di tengah kemudahan layanan digital, kesadaran pengguna untuk melindungi data pribadi sama pentingnya dengan tanggung jawab penyedia layanan. Praktik sederhana seperti menjaga kerahasiaan OTP, menggunakan autentikasi ganda, dan memahami kebijakan privasi dapat mengurangi risiko penyalahgunaan data.

Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana mengumpulkan dan memanfaatkan data, tetapi bagaimana menjaga kepercayaan publik. Jika dikelola dengan baik, data pribadi akan tetap menjadi aset strategis yang mendorong inklusi keuangan dan inovasi. Sebaliknya, tanpa tata kelola yang kuat, data dapat berubah menjadi sumber risiko yang menghambat pertumbuhan industri fintech itu sendiri.

  • Penulis: Fajar Surya

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • One UI 9 Beta 6

    Samsung Rilis One UI 9 Beta 6 untuk Galaxy S26 Series

    • calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 95
    • 0Komentar

    Teknoloji – Samsung kembali memperbarui One UI 9 untuk Galaxy S26 Series. Versi beta keenam mulai digulirkan dengan fokus utama pada perbaikan bug, mulai dari tampilan Now Brief hingga masalah penyimpanan foto pada Expert RAW. One UI 9 Beta 6 berbasis Android 17 tersedia untuk Galaxy S26, Galaxy S26+, dan Galaxy S26 Ultra yang terdaftar […]

  • Lazada Nestle AI LazzieCHat

    Lazada dan Nestlé Hadirkan Asisten AI LazzieChat di Indonesia

    • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 86
    • 0Komentar

    Teknoloji, Jakarta – Pernahkah kamu merasa bingung saat memilih produk nutrisi di aplikasi belanja? Deskripsi yang panjang dan istilah medis yang rumit sering kali membuat kita ragu. Memahami dilema ini, Lazada kembali berkolaborasi dengan Nestlé dalam ajang Regional Super Brand Day 2026 yang digelar serentak pada 23 April di lima negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. […]

  • Mac Mini M4

    Apple Pensiunkan Mac mini M4 Kapasitas 256GB?

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 80
    • 0Komentar

    Teknoloji, California –  Kabar mengejutkan datang bagi yang sedang menimbang-nimbang untuk meminang desktop mungil andalan Apple. Per 4 Mei 2026, varian Mac mini M4 dengan kapasitas penyimpanan 256GB dikabarkan telah menghilang dari daftar opsi pembelian di halaman produk resmi Apple. Penyesuaian “diam-diam” ini pertama kali terdeteksi melalui pantauan di situs web resmi Apple, di mana […]

  • iPhone Fold

    Apple Tetap Bakal Luncurkan iPhone Fold di Bulan September

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 104
    • 0Komentar

    Teknoloji, San Fransisco – Rumor soal iPhone Fold kembali panas. Setelah sempat muncul kabar bahwa ponsel lipat pertama Apple itu mengalami masalah dalam tahap pengembangan dan berpotensi mundur dari jadwal rilis, bocoran terbaru justru menyebut sebaliknya. Berdasarkan laporan dari jurnalis Bloomberg, Mark Gurman, yang dikutip Teknoloji, Kamis (9/4/2026),  proyek iPhone Fold masih berjalan sesuai rencana. […]

  • iPhone fold video

    Video Render iPhone Fold Bikin Geger!

    • calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
    • account_circle Dara Harun Assegaf
    • visibility 71
    • 0Komentar

    Teknoloji, San Fransisco – Minggu lalu, jagat maya sempat ramai dengan bocoran gambar CAD yang diduga kuat sebagai iPhone Fold alias iPhone lipat pertama dari Apple. Belum reda kehebohannya, hari ini muncul sebuah video yang memperlihatkan perangkat tersebut dari berbagai sudut yang lebih detail. Keren? Pasti. Tapi pertanyaannya: Apakah ini asli? Sebelum kamu terlalu bersemangat, […]

  • Google Chrome

    Update Terbesar dalam Sejarah Chrome: Kini Dilengkapi AI Bawaan

    • calendar_month Minggu, 14 Des 2025
    • account_circle Fajar Surya
    • visibility 96
    • 0Komentar

    San Fransisco – Google baru saja merilis pembaruan yang sangat signifikan untuk Chrome. Mereka menyematkan fitur berbasis AI langsung ke dalam browser, menjadikan teknologi ini sebagai bagian inti dari pengalaman berselancar di internet, bukan sekadar fitur tambahan atau ekstensi. Semua fitur baru ini ditenagai oleh model AI andalan Google, Gemini. Berikut adalah beberapa perubahan utamanya: […]

expand_less