Pasar AI Global Meledak, Laba Samsung Tembus Rekor Baru
- account_circle Dara Harun Assegaf
- calendar_month Senin, 6 Jul 2026
- visibility 28
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kantor Samsung di Sillicon Valley (Foto: Samsung Newsroom)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Teknoloji, Seoul -Demam kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tampaknya masih menjadi mesin uang utama bagi raksasa teknologi dunia. Samsung Electronics diperkirakan bakal kembali mencetak rekor laba operasional baru pada kuartal II 2026.
Ya, berdasarkan laporan Reuters yang merangkum LSEG SmartEstimate dari 30 analis memproyeksikan laba operasional raksasa teknologi asal Korea Selatan ini bakal menyentuh angka fantastis, mencapai 86 triliun won atau setara US$56,35 miliar untuk periode April-Juni.
Jika prediksi para analis ini terbukti akurat, angka tersebut menandai lonjakan luar biasa dibanding periode yang sama tahun lalu yang ‘hanya’ sebesar 4,7 triliun won. Sekaligus menjadi rekor pertumbuhan kuartalan ketiga berturut-turut bagi Samsung.
Meski begitu, angka ini masih berupa proyeksi kuat. Samsung dijadwalkan merilis estimasi laba resmi mereka pada hari Selasa besok, sebelum nantinya mengumumkan rincian laporan keuangan kuartal II secara menyeluruh.
Memori AI Jadi “Anak Emas”, Harga Chip Ikut Meroket
Biang kerok di balik tebalnya pundi-pundi rupiah Samsung kali ini tidak lain adalah lini bisnis semikonduktor alias memori. Pasokan memori global saat ini dilaporkan sangat ketat akibat tingginya permintaan untuk server AI. Menariknya, lonjakan ini tidak hanya terjadi pada High-Bandwidth Memory (HBM) yang memang dirancang khusus untuk AI, tetapi juga ikut mendongkrak permintaan DRAM dan NAND konvensional.
“Bisnis memori kami berhasil mencetak rekor berkat permintaan komponen bernilai tinggi untuk kebutuhan AI, pasokan yang terbatas di pasar, serta kenaikan harga jual rata-rata (ASP),” demikian tulis manajemen Samsung dalam laporan resmi kuartal I lalu, yang juga memprediksi tren ini akan terus berlanjut sepanjang tahun 2026.
Data dari Citi Research mempertegas kondisi ini. Sepanjang kuartal kedua tahun ini, harga jual rata-rata (ASP) untuk DRAM melesat hingga 44% secara kuartalan (QoQ), sedangkan komponen NAND melonjak lebih tinggi lagi sebesar 53 persen%.
Bayang-Bayang Bonus Karyawan dan Tantangan Industri
Walau angin segar sedang berembus, hasil akhir laporan keuangan Samsung masih berpotensi bergeser. Analis mengingatkan adanya faktor internal, seperti alokasi anggaran untuk bonus pekerja di divisi chip setelah tercapainya kesepakatan upah baru, yang bisa sedikit mengoreksi pencatatan laba kuartal II.
Dari sisi makro, para investor global juga mulai bersikap lebih kritis. Melansir laporan JPMorgan, pelaku pasar saat ini tengah mencari bukti yang lebih konkret bahwa layanan AI yang diadopsi berbagai perusahaan benar-benar mampu menghasilkan pertumbuhan pendapatan cloud yang sepadan. Investor ingin memastikan bahwa belanja modal (CapEx) untuk memori yang terus membengkak ini bukan sekadar tren sesaat (bubble).
Kesimpulannya, proyeksi 86 triliun won ini mencerminkan betapa besarnya kue industri memori yang sedang dinikmati Samsung berkat revolusi AI. Namun, untuk melihat seberapa kuat performa realisasinya, kita masih harus menunggu ketukan palu resmi dari raksasa teknologi tersebut.
- Penulis: Dara Harun Assegaf

Saat ini belum ada komentar