Friendster Kembali Hadir, Jadi Platform Media Sosial Anti Mainstream
- account_circle Dara Harun Assegaf
- calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
- visibility 21
- comment 0 komentar
- print Cetak

Friendster (foto: Ilustrasi)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Teknoloji, California – Bagi warganet yang tumbuh besar di awal era 2000-an, nama Friendster tentu bukan sekadar situs web biasa. Platform ini adalah gerbang nostalgia sekaligus saksi bisu awal mula kegandrungan masyarakat Indonesia terhadap media sosial.
Nah, setelah resmi menutup operasinya pada Juni 2018 karena kalah bersaing dengan raksasa seperti Facebook, kini Friendster mencoba “bangun dari kubur” dengan napas yang benar-benar baru. Namun, jangan harap kamu akan menemukan fitur Testimonial atau pilihan mengubah background profil seperti dulu.
Ya, Friendster versi masa depan ini hadir dengan filosofi yang berani melawan arus media sosial modern. Apa aja sih?
Tanpa Iklan, Tanpa Algoritma
Di saat platform lain berlomba-lomba membuat kita kecanduan dengan infinite scroll dan algoritma yang agresif, Friendster justru memilih jalan sepi. Platform ini mengklaim tidak lagi menggunakan algoritma untuk mengatur apa yang dilihat.
Beberapa poin unik dari “Friendster Baru” ini antara lain:
-
Fokus pada Koneksi Nyata: Tidak ada sistem rekomendasi yang memaksa pengguna terus menatap layar. Fokus utamanya adalah menjaga kualitas hubungan, bukan kuantitas waktu layar (screen time).
-
Privasi sebagai Prioritas: Pengembang menyatakan tidak akan menjual data pengguna dan platform ini beroperasi tanpa iklan sama sekali.
-
Model Bisnis Mandiri: Sang pengembang, Mike Carson, menyebut ia tidak mengejar profit besar dan berharap platform ini setidaknya bisa membiayai operasionalnya sendiri. Ke depan, ada wacana fitur premium berbayar, namun hal itu belum menjadi fokus utama.
Satu hal yang paling radikal dari Friendster versi Mike Carson adalah cara kita menambah teman. Pengguna tidak bisa lagi sekadar mengetik nama orang asing lalu menekan tombol add friend.
Koneksi hanya bisa terjalin jika kedua orang berada di lokasi yang sama secara fisik. Dengan memanfaatkan teknologi pada perangkat untuk terhubung langsung, sistem ini memastikan bahwa setiap teman di Friendster adalah orang nyata yang memang pernah kamu temui secara langsung. Mike Carson merancang konsep ini agar proses berteman kembali ke akarnya: interaksi tatap muka.
Nostalgia Friendster di Indonesia
Mengapa kembalinya Friendster terasa begitu spesial bagi publik Tanah Air? Sebelum Facebook mendominasi, Indonesia adalah salah satu pasar terbesar Friendster di dunia. Nostalgia mengganti lagu di profil atau menunggu kiriman Testi menjadi memori kolektif generasi milenial Indonesia.
Di tengah isu kesehatan mental akibat tekanan media sosial di Indonesia, kehadiran platform yang “tenang” dan tanpa dorongan untuk terus aktif menjadi alternatif yang menarik bagi mereka yang mulai lelah dengan hiruk-pikuk konten yang tak berujung.
Jauh mundur ke belakang, didirikan di California pada 2002, Friendster sempat dibeli oleh perusahaan Malaysia, MOL Global, pada 2009 sebelum akhirnya benar-benar redup. Mike Carson sendiri membeli domain dan merek dagang Friendster yang kedaluwarsa dalam rentang tahun 2023 hingga 2025.
Sayangnya, antusiasme ini harus sedikit tertahan. Saat ini, aplikasi Friendster baru tersedia secara terbatas untuk perangkat iOS dan belum dirilis secara luas di banyak negara, termasuk Indonesia. Belum ada kepastian kapan aplikasi ini akan menyambangi pengguna Android atau versi web.
“Tantangan Friendster saat ini bukan lagi soal menghidupkan nama besar, melainkan membuktikan apakah konsep ‘sosial media lambat’ ini relevan bagi pengguna masa kini yang terbiasa dengan kecepatan tinggi,” demikian ujar Carson dalam blog-nya.
Akankah Friendster berhasil menjadi pelarian bagi mereka yang rindu akan ketenangan, atau justru tenggelam karena syarat “harus bertemu” yang terlalu berat? Hanya waktu yang bisa menjawab.
- Penulis: Dara Harun Assegaf

Saat ini belum ada komentar