Baterai Tanpa Anoda Ini Bikin Jarak Tempuh Mobil Listrik Makin Jauh
- account_circle Dara Asmara
- calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Teknoloji, Seoul – Kabar gembira buat kamu yang masih ragu beralih ke mobil listrik (EV) karena takut baterai cepat habis atau drop saat cuaca dingin.
Sekelompok ilmuwan jenius dari Korea Selatan baru saja mengumumkan terobosan besar. Tim gabungan dari POSTECH, KAIST, dan Gyeongsang National University berhasil mengembangkan teknologi baterai logam lithium “tanpa anoda” (anode-free).
Klaimnya nggak main-main: teknologi ini bisa menggandakan kepadatan energi tanpa perlu memperbesar ukuran fisik baterai. Ini bisa jadi kunci jawaban atas masalah klasik EV: “range anxiety” alias kecemasan soal jarak tempuh.
Ukuran Sama, Tenaga Dua Kali Lipat
Tim peneliti yang dipimpin oleh Profesor Soojin Park dan Dr. Dong-Yeob Han ini memamerkan baterai dengan kepadatan energi mencapai 1.270 Wh/L.
Sebagai perbandingan, baterai lithium-ion yang dipakai di kebanyakan mobil listrik saat ini rata-rata hanya punya kepadatan sekitar 650 Wh/L.
Bagi pabrikan mobil, “kepadatan volumetrik” ini adalah segalanya. Artinya, mereka bisa menyuntikkan tenaga dua kali lipat lebih banyak ke dalam sasis mobil tanpa harus membuat bodinya jadi bengkak atau lebih berat.
Rahasianya: Buang Anoda!
Sesuai namanya, rahasia teknologi ini ada pada desain “tanpa anoda”.
Di baterai biasa, ada komponen bernama anoda grafit yang berfungsi sebagai “rumah” penyimpanan lithium. Nah, di versi baru ini, rumah itu dihilangkan. Saat baterai diisi daya (charge), ion lithium langsung menempel pada kolektor tembaga.
Dengan membuang anoda yang memakan tempat, ruang internal baterai jadi jauh lebih lega. Ruang kosong ini kemudian diisi dengan lebih banyak daya aktif. Simpel tapi brilian, kan?
Menjinakkan “Dendrit” Si Perusak Baterai
Konsep tanpa anoda ini sebenarnya sudah lama jadi “Holy Grail” (cawan suci) dunia baterai, tapi eksekusinya susah minta ampun.
Masalah utamanya adalah Dendrit. Saat lithium menempel tidak rata, ia membentuk jarum-jarum tajam (dendrit) yang bisa menusuk lapisan dalam baterai. Akibatnya fatal: bisa korsleting, umur baterai pendek, atau bahkan terbakar.
Untuk mengatasi ini, tim Korea menggunakan strategi dua langkah:
- Reversible Host: Mereka membuat bingkai polimer dengan nanopartikel perak. Ini berfungsi sebagai “pemandu” agar lithium menempel dengan rapi dan mulus.
- Elektrolit Khusus: Mereka meracik elektrolit yang menciptakan lapisan pelindung (lithium oksida dan nitrida). Lapisan ini bertindak sebagai tameng yang mencegah dendrit tumbuh, tapi tetap membiarkan aliran listrik lancar.
Semakin Dekat ke Produksi Massal
Hasil tes laboratoriumnya sangat menjanjikan. Bahkan di bawah kondisi ekstrem, baterai ini mampu mempertahankan hampir 82% kapasitasnya setelah 100 siklus pengisian.
Yang bikin optimis, mereka menguji teknologi ini menggunakan format “pouch cells” (sel kantong), bentuk yang paling mendekati baterai mobil listrik sungguhan di pasaran. Ini tanda bahwa teknologi ini bukan sekadar teori di atas kertas, tapi sangat mungkin diproduksi massal.
Memang belum ada tanggal rilis resminya, tapi temuan ini memberi harapan nyata. Masa depan di mana mobil listrik bisa jalan ribuan kilometer sekali charge dan tahan banting di segala cuaca sepertinya sudah di depan mata.
- Penulis: Dara Asmara

Saat ini belum ada komentar