Kisah Pavel Durov: Dibuang Negara, Dipuja Pengguna Telegram
- account_circle Dara Asmara
- calendar_month Selasa, 23 Des 2025
- visibility 31
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tidak semua orang rela kehilangan segalanya demi sebuah prinsip. Pavel Durov adalah pengecualian.
Di saat banyak pendiri startup bermimpi menjadi miliarder yang disambut negara, Durov justru memilih jalan sepi: meninggalkan tanah kelahirannya, kehilangan perusahaan yang ia bangun, dan hidup tanpa kewarganegaraan, demi satu hal yang baginya tak bisa ditawar: kebebasan.
Nama Pavel Durov hampir selalu muncul setiap kali isu privasi digital, kebebasan berekspresi, atau aplikasi pesan instan dibahas. Pendiri Telegram ini dikenal sebagai figur nyentrik, idealis, dan kerap menantang arus utama industri teknologi. Di balik kesuksesan aplikasinya yang dipakai ratusan juta orang, perjalanan hidup Durov juga dipenuhi kontroversi yang membuatnya dijuluki sebagai “Mark Zuckerberg versi anti-sistem”.
Awal Mula: Anak Jenius dari Rusia
Pavel Durov lahir di Leningrad (kini Saint Petersburg), Rusia, pada 10 Oktober 1984. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan dunia akademik dan teknologi. Durov dikenal sebagai siswa brilian yang menempuh pendidikan di Saint Petersburg State University, dengan fokus pada filologi—bidang yang jarang diasosiasikan langsung dengan teknologi.

Namun ketertarikannya pada dunia digital tak terbendung. Pada usia muda, Durov mendirikan VKontakte (VK), jejaring sosial terbesar di Rusia yang kerap disebut sebagai “Facebook versi Rusia”. VK tumbuh pesat dan menjadikan Durov salah satu pengusaha teknologi paling berpengaruh di negaranya.
Benturan dengan Negara dan Kepergian dari VK
Kesuksesan VK justru menjadi awal konflik. Durov secara terbuka menolak permintaan pemerintah Rusia untuk menyerahkan data pengguna dan memblokir akun aktivis oposisi. Sikap keras ini berujung pada tekanan politik dan bisnis yang intens.
Pada 2014, Durov akhirnya kehilangan kendali atas VK dan memilih meninggalkan Rusia. Sejak saat itu, ia hidup berpindah-pindah negara, tanpa kewarganegaraan tetap, dan mengukuhkan citranya sebagai pengusaha teknologi “tanpa rumah” yang menolak tunduk pada otoritas negara.
Telegram: Visi Privasi Tanpa Kompromi
Setelah keluar dari VK, Durov bersama saudaranya, Nikolai Durov, mengembangkan Telegram. Aplikasi ini diposisikan sebagai platform pesan instan yang mengutamakan keamanan, enkripsi, dan kebebasan berekspresi.
Telegram dengan cepat mendapat tempat, terutama di negara-negara dengan tingkat sensor tinggi. Fitur seperti secret chat, channel, dan bot membuatnya bukan sekadar aplikasi chat, melainkan ekosistem komunikasi global.
Namun di sinilah kontroversi kembali muncul. Telegram kerap dituding menjadi “rumah aman” bagi berbagai aktivitas ilegal, mulai dari penyebaran hoaks, ekstremisme, hingga transaksi gelap. Banyak pemerintah mendesak Telegram untuk lebih ketat dalam moderasi konten.
Respons Durov nyaris selalu sama: Telegram bukan polisi internet. Ia menegaskan bahwa perannya adalah menyediakan alat komunikasi, bukan mengontrol percakapan penggunanya. Sikap ini membuatnya dipuji oleh aktivis kebebasan digital, namun dikritik keras oleh regulator dan penegak hukum.
Beberapa negara bahkan sempat memblokir Telegram, meski sebagian akhirnya melunak karena tekanan publik dan kebutuhan komunikasi.
Gaya Hidup Minimalis dan Persona Misterius
Berbeda dengan miliarder teknologi lain, Pavel Durov jarang tampil glamor. Ia dikenal menjalani gaya hidup minimalis, berpakaian serba hitam, tidak minum alkohol, dan rutin berolahraga. Di media sosial, ia sering membagikan pandangan filosofis tentang kebebasan, kontrol negara, dan masa depan internet.

Durov juga hampir tidak pernah memberi wawancara panjang, menambah aura misterius di sekeliling dirinya.
Hingga kini, Pavel Durov tetap menjadi figur yang memecah opini. Bagi sebagian orang, ia adalah simbol perlawanan terhadap pengawasan massal. Bagi yang lain, ia dianggap terlalu idealis dan mengabaikan dampak sosial dari platform yang ia bangun.
Satu hal yang sulit dibantah: Pavel Durov telah mengubah cara dunia berkomunikasi. Telegram bukan hanya produk teknologi, melainkan perwujudan ideologi, bahwa privasi adalah hak, bukan privilese.
Di era ketika data menjadi komoditas paling berharga, kisah Pavel Durov menjadi pengingat bahwa teknologi selalu membawa pilihan: tunduk pada kekuasaan, atau menantangnya.
- Penulis: Dara Asmara

Saat ini belum ada komentar